BUYUT ( Dayung Keramat ) - Kisah masa kecil Rama Atmaja -

 


Kok cerita baru lagi? Kan cerita yang dulu belum tamat?!

Yup! Aku ingin menulis kisah ini, kisahku (Rama Atmaja) yang akan berawal dari masa kecil.

Kenapa Rama menyisipkan cerita ini?
Karena tepat 17 januari nanti, Rama ulang tahun. 
Sebuah cerita yang hanya Rama ceritakan kepada segelintir orang dan mungkin saja, di thread ini akan menemukan sebuah jawaban.

Kisah yang berawal sewaktu masih suka berlari dan sering kali terjatuh.
Entah usia berapa kala itu, yang jelas kalau jatuh masih suka menangis. 
Tetapi setelah Mama bilang, "Kalau jatuh jangan nangis!" dan semenjal itu, Rama tak lagi menangis dikala jatuh.

Mungkin saat itu, usia Rama kurang dari tiga tahun? Atau lebih?

Entahlah!

Karena orang bilang, Rama belajar berjalan di usia setahun lebih, atau setahun setengah? 
Tetapi, bukan ini inti dari kisah yang ingin Rama bawakan.
Melainkan dimalam itu, malam ketika Rama sakit dan melihat sesuatu yang sampai sekarang tak mengerti apa arti atau makna dari sesuatu yang Rama lihat.

Next, 17 januari ... . 
Sebelum masuk ke inti cerita, Rama akan memperkenalkan diri dulu dan memasukan beberapa pokok cerita yang tak ada hubungannya.

Namun nantinya, pembaca akan tahu siapa Rama dan tentunya tahu, kalau Rama bukanlah indigo. 
Cerita ini, tak bisa dibilang sebuah cerita.
Hanya sebuah mimpi saja. Namun ada sesuatu didalamnya.

Selamat membaca ... . 
Waktu itu, aku baru bekerja di salah satu PT yang mengelola hasil laut yang dibekukan.
Hasilnya, akan dikirimkan ke luar negeri.

Kurang-lebih satu mingguan aku bekerja disitu.
Ketika malam tiba, aku mendapatkan mimpi yang aneh mengenai tempat kerjaku. 
Dalam mimpi ....

Aku keluar rumah dan hendak pergi bekerja.
Biasanya berangkat kerja pada pagi hari.
Tapi, langit terlihat gelap, seperti malam. 
Aku berjalan menyusuri jalan setapak.
Tiba di ujung jalan, tepatnya dirumah paling akhir jalan ini. Aku melihat ada kolam berdiameter 300cm.
Aku berhenti sejenak didepan kolam tersebut. 
Tak lama, muncul dua sosok buaya dari dalam kolam.
Mungkin, sepasang buaya.

Aku melihat dengan sedikit kaget dan buaya lelaki membuka mulutnya.
Dia berbicara sesuatu. 
"Penunggu tempat Kamu kerja sekarang menginginkan tumbal!" ucap buaya tersebut sambil menunjuk ke arah PT tempat aku bekerja. 
Aku tak menjawab sepatah katapun.
Anehnya, kedua buaya tersebut seakan jinak.
Aku tak takut atau ragu saat ada didekatnya.
Lantas, aku melanjutkan langkah kakiku menyusuri bibir kolam dan meninggalkan dua buaya tersebut. 
(Padahal, dalam alam nyata. Aku tak pernah melewati jalanan ini untuk berangkat bekerja. Biasanya, aku melewati gang dan jalan lain.)

Tiba di PT tempat aku bekerja.
Aku masuk ke dalam bagian ujung ruangan. 
Zona dua tempatku berdiri, tergantung 2 kambing yang sudah tak berkepala.
Darahnya mengucur membasahi lantai.
Aku memutar badan dan melihat zona satu.
Disitu juga tergantung kambing yang sudah di potong kepalanya. Tapi, di zona satu cuma ada satu ekor kambing. 
Aku melihat temanku yang bernama, Reno. Dia memegang pisau dapur berukuran besar.
Dalam pikiranku, mungkin Renolah yang memotong semua kepala kambing dan di persembahkan untuk tumbal. 
Aku, masih tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
Aku hanya bisa melihat apa yang akan dia lakukan.

"Kambing saja tidak cukup!" ujar Reno sambil mendekatkan pisau ke lehernya.

Perlahan, Reno menggorok lehernya sendiri.
Bekas goresan pisau membuka luka dileher. 
Perlahan, darah segar keluar cukup deras membasahi seragam yang dia kenakan.
Tapi, dia tak merasakan penyesalan atau rasa sakit.
Reno tersenyum sambil memandang kearahku. 
Aku bergegas keluar dari tempat kerja dan hendak berjalan pulang.
Aku berjalan mengekor sama dua ibu-ibu yang bekerja di di tempat yang sama denganku.
Kedua orang tersebut juga hendak pulang! 
Langkah kaki kita terhenti oleh tembok besar yang menutup ujung gang.
Aku diam mematung melihat tembok besar tersebut.
Tingginya sekitar 5 meter. 
Kedua Ibu tersebut mencoba memutar mencari jalan.
Aku tak mengikuti mereka. Aku hanya diam dan terus memandang kearah tembok tersebut. 
Tak lama, kedua ibu itu kembali ke tempat semula dan berdiri tepat di depanku.
Berapa kali pun mereka mencoba memutar mencari jalan pulang. Tapi, ujung-ujungnya kembali ke tempatku berdiri. 
Mereka bingung dan kelelahan.
Tiba-tiba terdengar ada suara bapak-bapak dari arah belakang.

"Disini, dulunya tertanam Oyod Mingmang!" jelas Bapak-bapak yang wajahnya seperti orang cina. 
(Oyod Mingmang atau dalam bahasa Indonesianya akar Mingmang.
Akar tersebut bisa membuat orang linglung atau kebingungan.
Membuat siapa pun yang melewati akar tersebut, akan kembali ke tempat semula dia datang.) 
Setelah mimpi tersebut, seperti biasanya, aku bangun dalam keadaan terkena tindihan.

Bagiku, tindihan bukanlah hal yang aneh.
Karena sudah berapa kali atau berapa ratus kali terkena tindihan dan membuatku seakan takut tuk tidur. 
Masih ingat dengan cerita tumbah nahsadewangsa?
Dimana malam itu aku mengobrol dengan pak Pandu?

Aku menjelaskan tentang mimpi ini kepadanya dan dia pun menjawab kalau oyod mingmang itu benar adanya dan buayan yang didalam kolam itu, dia haya melihat kolam saja. 
Katanya aku beruntung, bisa melihat sosok yang ada didalam kolam tersebut, karena dia sendiri tak pernah melihat sosok itu muncul ke permukaan.

Tetapi, secara kasat mata kolam ini tak ada.
Hanya ada rumah warga. 
Kalau sudah paham, bisa dilanjutkan nanti pada tanggal 17.
Tetapi kalau masih ada yang kurang, okelah akan aku tambahkan. 
Ditempat kerja itu, tempatnya berada didaerah nenek tinggal dan aku bukan orang asli sini.

Selain kerja, aku malas main kemana-mana, jadi tak begitu tahu daerah sekitar.
Apalagi yang posisinya lumayan jauh.

Kalau dulu si sering main, waktu masih bocah dan jarang tidur di rumah. 
Masih di satu tempat kerja.
Aku mengenal tiga gadis yang bisa dibilang lumayan akrab, padahal hanya kenal di tempat kerja dan gak memakan waktu sampai berbulan-bulan. Karena aku kerja disitu, hanya 3 bulanan. 
Sebut saja nama mereka, Abel, Krista dan Metha.
Abel, orang yang pertama kali aku tahu alamat rumahnya lewat mimpi.

Secara garis beras, aku tak pernah bertanya dia tinggal dimana, keadaan rumahnya seperti apa dan sebagainya. 
Namun, setelah bangun dari mimpi itu dan menjelaskan apa yang aku lihat dalam mimpi, Abel kaget.
Karena apa yang aku lihat dalam mimpi memang benar adanya.

Saat turun dari mobil jemputan, masuk gang sempit, ada area lapang, pohon, masuk gang sempit lagi, rumah besar dan .... 
Sebelahnya adalah rumah dia.
Sebelah rumah besar itu dan ya, aku melihat Abel dari dalam rumah besar itu, setelah menyusuri daerah ini dan masuk kedalam rumah besar, lalu melihat Abel dari balik jendela kaca berwarna hitam. 
Selang beberapa hari berikutnya, seperti Abel.
Tanpa sengaja, aku melihat Krista didalam mimpi sedang duduk di kursi berwarna merah.
Dia memangku adiknya dan terlihat banyak kursi berjejer.

Krista hanya duduk diam menatap rumah, sedangkan halaman rumah itu begitu ramai orang. 
Tak lama aku bangkit dari tempat duduk dan hendak berjalan kaki tuk pulang.
Namun, aku melihat sebuah pabrik besar dan terlihat begitu ramai.

Aku masuk dan melihat ada salah satu teman juga ada disini.

Aku menelusuri tempat itu dan tak lama, ada mahluk seperti zombie. 
Dia melayang dan menyerangku, membuatku berlari dan menyelamatkan diri.

Entah berapa lama aku berlari dan akhirnya keluar juga dari gedung tersebut.

Ketika bangun dan selang beberapa hari, aku menebak lokasi rumah Krista dan semua detail yang aku lihat dalam mimpi. 
Tetapi, bukanlah rumahnya.
Melainkan rumah tetangga dan benar saja baru saja ada yang meninggal.

Pantas saja banyak kursi.
Dan satu lagi, aku menebak ada pabrik didekat rumahnya.

Tentu saja Krista kaget, karena tebakan dari awal hampir semua benar.
Haya saja, bukanlah rumahnya. 
"Bagaimana bisa tahu didekat rumahku ada pabrik?" tanya Krista.

"Dari mimpi!" jawabku dengan santai.

"Tapi, pabrik itu sudah tidak digunakan lagi, kan?" tanyaku.

"Iya! Sudah lama tidak beroperasi," jawab Krista. 
"Hati-hati! Karena aku dikejar mahluk penunggu pabrik itu!" ucapku.

"Ah, kakak nakutin saja!" gumamnya.

"Hehe ...." jawabku tertawa. 
Lanjut ke Metha!

Entah kenapa aku bermimpi melihat Metha dan Krista menaiki mobil jemputan dan mereka dijemput duluan sebelum yang lain.

Aku masih ingat warna baju keduanya dan sandal yang dikenakan Metha.

Tetapi kali ini berbeda, seakan melihat langsung, seperti bukan mimpi. 
Seperti biasa, aku terbangun dengan tindihan.
Kesal rasanya, tidurku selalu diganggu oleh mahluk tak kasat mata.

Tetapi, terkadang aku juga yang rela terkena tindih dan saat kena tindihan, aku bisa melihat yang tak terlihat. 
Kadang aku pasrah dan membiarkan, sampai bisa melihat sosok yang menindihku.
Dan terkadang, dibawa ke masa lalu.

Tindihan menjadi sebuah candu dan Metha adalah yang terakhir, "pikirku." 
Waktu melihat Metha dalam mimpi, bukanlah malam hari. Tetapi pagi.
Karena aku tidur lagi sehabis salat subuh dan kejadian mimpinya, tepat sewaktu dia berangkat kerja.

Sampai dikerjaan, aku tak berani ngomong langsung dan akhirnya lewat chat mesenger. 
Ya, aku tak tahu apa yang Metha kenakan hari itu.
Karena aku berangkat agak telat dan masuk sudah mulai jam kerja.
Metha sudah mengenakan seram dan sepatu.
Tetapi apa yang aku lihat itu seakan bukan mimpi, seperti melihat Metha secara langsung. 
Karena pakaian, sandal dan pertama kali dijemput, semuanya tak ada yang meleset.
Semuanya sama seperti yang aku lihat.

Dari situ, ketiga cewek ini tahu, kalau aku bisa melihat dalam mimpi dan mereka diam-diam sering membicarakan aku tentang mimpi-mimpi ini. 
Sesuai dengan apa yang aku inginkan, aku ingin kalau Metha yang terakhir dan malam itu, tubuhku tak bisa lagi digerkan, "Woy kampret! Aku belum tidur!" teriakku dan entah mengapa bisa terlepas.

Ternyata sosok Kunti, yang mencoba tuk ganggu tidurku. 
Tentu saja aku tak dapat melihat, kalau tidak ada diantara alam sadar dan mimpi, makanya aku bisa melihat sosok kunti itu.

Dan anehnya keinginan aku tuk berhenti terwujud.
Karena aku sudah jarang kena tindihan dan melihat sesuatu yang bahkan tak aku inginkan. 
Semuanya hilang dan lepas begitu saja.
Tidurku pun tak lagi terganggu oleh mereka.

Untuk mimpi melihat masa lalu, kapan-kapan aku ceritakan.
Tetapi, intinya aku bukan indigo dan aku bukanlah petualangan mimpi. 
Kenapa aku cerita ini?
Karena nantinya ada keterkaitan dengan cerita yang akan aku ceritakan.

Lalu, setelah tak lagi bisa melihat lewat mimpi apa sudah begitu saja?
Hm, belum saatnya aku ceritakan. 
Intinya setelah melepas keinginan tuk melihat dalam mimpi, aku bisa hidup dengan tenang dan tak takut akan tidur siang, malam, atau pagi.

Jujur, aku rentan dan mudah sakit.
Apalagi kalau nulis cerita yang agak ektrim.
Bagi yang mengerti, aku butuh healer 🙏
Source: Rama Atmaja

Keluarga Hantu di Ruko Batam

  Keluarga Hantu di Ruko Batam A Thread #memetwit   @InfoMemeTwit Oleh: Ghost Writer (Cerita nyata - cerita mistis) Sembilan belas tahun yan...

Pengikut

Pembaca Cerita Horror

Arsip Blog

Cari Blog Ini