Jejak keluarga Argantani

 


Ting ting ting


Sara semakin dekat dengan suara lonceng tersebut

"Pasti ada di samping sumur", Sara membatin

Merasa yakin, Sara pun mengendap ngendap kearah sumur secara perlahan, dengan harapan adiknya memang bersembunyi disana
Ting

Sudah dekat

Sara sangat yakin suara lonceng tersebut berada dari balik sumur

"BA!" Ia berteriak

Hening. Suana sunyi senyap. Aneh, tidak ada seorang pun yang berada di balik sumur

"Dika??" Panggil Sara 
Sara menggaruk kepalanya kebingungan "Kenapa tidak ada? Tadi kan suaranya dari balik sini?" Pikirnya

Ting ting ting ting ting

Tiba tiba lonceng tersebut berbunyi tanpa henti, kali ini berada di belakangnya

"AAAAA!" 
Dan disitulah, terror dari nona merah di mulai

*** 
Di desaku, ada sebuah rumah. Yang konon di rumorkan rumah yang dulunya bekas pesugihan.

Rumah tersebut memang sangat besar dan megah. Walaupun begitu, terdapat kisah kisah pilu yang tersimpan dibalik kemegahannya 
Dan semenjak rumor tersebut beredar, tidak ada satu pun orang yang berani menempati rumah tersebut

Lalu rumah tersebut dibiarkan hancur begitu saja, termakan oleh waktu 
Dan hari ini, saya akan mengisahkan sebuah cerita yang dialami keluarga Argantani

Sebelum memulai cerita, saya ingin menjelaskan sedikit informasi tentang keluarga Argantani 
Sebenarnya keluarga Argantani adalah sebuah keluarga yang cukup bercukupan pada masa itu

Namun sang Ayah, merasa harta yang mereka punyai tidaklah cukup sehingga ia tega menghabisi keluarganya hanya demi harta 
Rumah yang di tempati keluarga Argantani di huni oleh 6 orang

4 anak dan dua sepasang suami istri

Salah satu dari 4 anak ini, tidak bisa berbicara, atau bisa di sebut juga dengan tunawicara

Dan karena itu, ia mempunyai sebuah lonceng
Kecil yang dulunya akan di bunyikan jika ia ingin memanggil salah satu dari mereka

Satu getaran untuk ibu, dua getaran untuk kakak pertama, tiga getaran untuk kakak kedua dan empat getaran untuk kakak ketiga

*** 
Maret 1965

Hari ini ayah pulang dengan kabar gembira. Ayah bilang, bahwa kita akan mendapat rumah baru

Rumah tersebut cukup jauh dari rumah yang sekarang kami tempati, namun jika di lihat dari tanahnya 
Rumah tersebut memang sangat besar

Sebenarnya aku cukup senang, karena setelah bertahun tahun lamanya, kerja keras ayah terbayarkan

Walaupun begitu, aku masih sedih dengan kepergian almarhum kakakku yang seminggu yang lalu meninggal dunia 
- Rumah baru -

"Ayah nggak mau ikut ngelayat kakak?" Sara bertanya

"Nggak usah", Ia menjawab singkat, "Kamu emangnya mau ngelayat sama siapa?" Lanjutnya bertanya

"Sama Kakak", Jawabnya yang lalu menunjuk kearah Bima yang sudah menyalakan motor 
Sang ayah menggeleng, "Udah nggak udah ngelayat, kamu di rumah aja disini bareng yang lain"

"Tapi itu kakak juga udah siap siap"

"Nggak, biarin aja itu kakak kamu, kamu di rumah aja"

"Kenapa? Emang ayah juga gak kasian sama kakak?" 
Mendengar pertanyaan tersebut, ia pun langsung terdiam untuk beberapa saat sampai akhirnya, ia menarik Sara secara paksa untuk kembali masuk ke dalam rumah

"Udah dengerin ayah! kamu di rumah!" Ucapnya yang lalu mengunci pintu rumah 
Melihat perlakuan ayahnya tersebut, Sara pun semakin kesal

"Ayah kenapa sih?! Masa nggak mau ngelayat anak ayah sendiri?!"

"Ya Allah ada apa ini ribut ribut", Sang ibu menghampiri, "Kenapa kok marah marah?" 
"Masa tadi aku mau ngelayat kakak, nggak di bolehin sama ayah?"

"Yasudah, gapapa, mungkin ayah mau ngajak kamu nanti"

"Ngajak apanya", Tandas Sara, "Ayah bahkan ga dateng di hari kakak meninggal"

"Mungkin ayah lagi sibuk saat itu" 
Ucap Ibu lemah lembut

"Tapi masa ayah nggak berinisiatif untuk ngelayat atau mendoakan? Kenapa ayah bisa begitu"

"Sabar sabar, nanti ibu yang ajak ayah ngomong ya?" Sang ibu tersenyum

Sara menghela nafas panjang, lalu menggangguk pelan 
"Udah, kamu main aja ya sama Dika aja"

Sara pun menuruti sang ibu dan langsung pergi ke kamar Dika

*** 
Tok tok tok

"Sara"

Tok tok tok

"Iya sebentar", Balas Sara

Dengan cepat Sara pun langsung membereskan buku bukunya dan pergi membukakan pintu

"Kenapa bu?" Tanya Sara 
"Tadi kakak sudah pulang belum?" Tanyanya

Sara melihat kearah jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul 5 sore

"Belom bu", Jawab Sara, "Emang kenapa?"

"Tadi bukannya kakak berangkat jam 8 pagi? Masa sampai jam segini 
Belum pulang?" Ucapnya khawatir

"Benar juga", Sara membatin

Aneh

Karena yang keluarga Argantani tahu, Bima adalah anak yang berbakti dan selalu menurut

Ia selalu mengikuti apa yang di katakan kedua orang tuanya 
Perutama untuk sang ibu

Salah satu peraturan yang diberikan kepadanya adalah, ia tidak boleh pulang sore. Dan itu adalah salah satu penyebab Bima menjadi anak yang sangat jarang keluar rumah 
"Mungkin macet bu", Sara menggaruk lehernya kebingungan

"Nggak mungkin macet Sara, pasti ada sesuatu kalo Bima nggak pulang pulang", Ibu melihat kearah jendela, "Tuhkan sudah gelap, Memangnya Bima pergi kemana?" 
Sang ibu semakin khawatir

Ting

Dika memanggil

Mendengar itu, keduanya pun langsung menghampiri Dika yang sudah membawa sebuah buku dan pulpen untuk berkomunikasi

"Kenapa Dika?" Ibu bertanya 
"Kenapa kakak belum pulang?" Tulis Dika

"Tuhkan, Dika aja nanya loh Sara"

"Yaudah bu tanya aja ke ayah"

"Ayah tadi siang pergi, katanya ada urusan dengan teman kerja" 
"Biasanya kakak bukannya pulang jam 2?" Dika menulis lagi

Ibu mengangguk

Keadaan pun semakin kacau setelah sang ibu menyadari bahwa mobilnya dibawa oleh sang ayah

Yang berarti, ia tidak bisa pergi menyusul Bima 
Terus akhirnya mereka nunggu sampe jam 9 malem, tapi ternyata baik ayah maupun Bima

Gaada yang pulang

Kalo soal ayah yang belum pulang, ibu masih wajarin soalnya udah sering si ayah pulang malem 
Tapi kalo Bima, berhubungan ga sering pulang malem, ibu pasti khawatir banget

Sampai akhirnya si ibu bergadang buat nungguin Bima

*** 
- Ia meminta tolong -

Dak

Suara tersebut datang lagi, namun kali ini pukulan yang menghantam jendela Dika lebih keras dari yang sebelumnya

Entah batu atau pohon yang menghantam jendelanya, ia tidak peduli 
Ia pun kembali mencoba tidur. Dengan harapan suara tersebut hilang agar ia bisa tidur

Dak dak dak dak

Dika terkejut, lagi lagi ia menoleh kearah jendela, namun tidak mendapati siapapun atau sesuatu yang berada disana 
Dika menggaruk garuk kepalanya bingung

"DIKA!! DIKA!" Seseorang tiba tiba memukul mukul jendelanya

Terkejut, ia pun langsung melihat kearah jendela

"Kakak?" Pikir Dika

Ia menatap kearah jendela sedikit lama, mencoba memastikan bahwa orang yang memukul 
Jendela tersebut benar benar kakaknya

"Dika! Dika!" Ia memanggil manggil, "Jangan percaya sama ayah Dika! Kakak masih hidup!" Ucapnya 
Mendengar itu pun tentu saja Dika terheran heran

"Tentu saja kakak masih hidup, kakak kan belom pulang", Pikirnya

"Dika! Kalo kamu lihat nona berwarna merah! Jangan coba coba dekatin" 
Tok tok tok

"Dika ayo bangun, sudah ibu buatkan sarapan", Ucap ibu yang langsung membangunkan Dika dari tidur lelapnya

"Cuma mimpi?" Dika membatin

Tok tok tok 
"Dika sudah bangun belum? Ayo kita sarapan", Sahut ibu

Dika melihat kearah sekitar, mencoba memastikan ia sudah berada di dunia nyata

Ia pun mencoba membunyikan loncengnya

Ting ting ting

"Oh tadi hanya mimpi", Batinnya 
"Ayo Dika, bangun, hari ini kita bakal nyari Bima"

Habis itu akhirnya Dika sarapan sama Sara. Tapi pas waktu itu ayahnya mereka belum pulang, jadi mereka nanti bakal minjem mobil tetangga 
Sreet, Dika tiba tiba memberi sebuah kertas kepada Sara, sang kakak

"Kenapa?" Tanya Sara

Dika lalu mengetuk kertas tersebut, dengan maksud "bacalah"

Sara pun langsung membaca kertas tersebut yang terrtulis isi dari mimpi 
Dika semalam

"Ah yang bener kamu?" Sara mengembalikan kertas tersebut, tidak percaya dengan mimpinya

"Beneran kak", Tulis Dika

"Kalo itu kakak, harusnya dia langsung masuk ke rumah dong", Timpa Sara dengan logika 
"Lagian itu juga cuma mimpi, udah gausah pikirin nanti juga nyusul kakak", Lanjutnya

Mendengar itu, Dika mengangguk kecil. Lagi pula itu hanya mimpi, belum tentu mimpi tersebut benar bukan

*** 
Tepat pukul 11 pagi, Dika, Sara setahun ibu berangkat untuk pergi ke makam Almarhum sang kakak

Berhubungan terakhir kali sebelum Bima pergi, Bima bilangnya mau ngelayat 
Sampe sana mereka bertiga manggil manggil nama Bima, cuma ga kepanggil panggil

"Bima!" Ibu memanggilnya

Namun lagi lagi tidak ada jawaban

Saat itu, tidak ada satu pun orang yang berada disana. Karena itulah sangat sulit bagi mereka 
Untuk mencari keberadaan Bima

"Mungkin bukan disini bu", Ucap Sara yang sudah kelelahan mencari di bawah terik matahari

Sang ibu menoleh, "Yasudah kalau gitu kita ke rumah teman temannya Bima" 
Ting ting ting ting

Tiba tiba Dika membunyikan lonceng dari kejauhan

"Dika! Ngapain kamu disitu!" Sorak ibu yang terkejut saat melihat Dika yang ternyata sudah sangat jauh darinya

Ting ting ting 
Dika melambai lambaikan tangannya, menyuruh keduanya kemari

"Ada apa?" Tanya Sara

Ting ting ting

"Udah ikutin aja ayo", Tidak ingin berlama lama, Sang ibu pun langsung menggenggam tangan Sara dan menyusul Dika 
"Kenapa Dika?" Tanya ibu sesampainya mereka disana

Dika lalu menunjuk kearah sebuah motor di balik rumput rumput tinggi

"Ada apa?" Tanya Sang ibu yang lalu mencoba menyingkirkan rumput rumput yang menghalangi pandangan mereka 
"BU ITU KAN MOTORNYA KAKAK", Ucap Sara histeris

Dika mengangguk

Dan gara gara ada motor Bima disitu, akhirnya mereka tambah semangat dong nyarinya

Karena pasti mereka mikirnya si Bima masih ada di deket situ. Tapi ternyata udah 1 jam mereka tuh ga nemu 
Nemu

"Apa mungkin udah pulang ya?" Tanya ibu

"Kalau pulang, harusnya papasan sama kita bu", Sara membalas

Ibu berdeham

Kelelahan mencari, ketiganya pun akhirnya memutuskan untuk beristirahat di sebuah pohon besar untuk bersandar 
Sambil mendengarkan adzan yang berkumandang, ketiganya berdoa agar Bima segera di temukan 
"Sara? Bu? Ngapain kalian ada disini?"

Tiba tiba seorang lelaki datang menghampiri dan membangunkan ketiganya yang tertidur di balik pohon

"Lah? Ayah? Kok ayah ada disana?" Sara terkejut 
"Lah, kalian ngapain disini?"

Menyadari bahwa lelaki tersebut adalah sang suami, sang ibu pun langsung bangkit dan menceritakan apa yang telah terjadi

"Bima hilang, dari kemaren nggak pulang pulang, tapi tadi kita semua liat 
Motor Bima ada disana", Kata ibu yang masih khawatir dengan kehilangan Bima

"Ohh", Sang ayah mengangguk pelan, "Mungkin dia udah balik ke rumah"

"Kayaknya nggak balik ke rumah deh yah, soalnya tadi ga ketemu di jalan", Sambar Sara 
"Yasudah, soal Bima nanti dulu, mending sekarang kita pulang aja"

"Nggak nggak, kita sekarang cari Bima dulu", Tolak ibu, "Ayo kita ke polisi dulu laporin soal Bima, ayah naik apa? Naik mobil?" 
Entah mengapa, tiba tiba ia berdecak lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada, seolah olah ia menganggap remeh soal kasus ini

"Nanti biar ayah saja yang cari, kalian pulang dulu, serahin aja ke ayah" 
Sang ayah lalu mengantarkan ketiganya pulang dan membiarkan sang ibu larut dalam kekhawatiran

*** 
- Kakak kembali memberi tanda -

Dak dak dak

Seseorang kembali memukul kaca, sontak Dika pun langsung terbangun dan kembali melihat kearah kaca

Dan kembali mendapati sang kakak berdiri disana

"Dika! Jangan percaya sama ayah!" Ucap sang kakak 
"Ini mimpi ya?" Dika membatin

"Dika! Kakak masih hidup Dika! Jangan percaya sama ayah! Kalau ada nona berwarna merah jangan deketin!" 
Tok tok tok tok tok

"Dika!! Yaampun Dika! Kamu denger suara aku nggak sih!"

Tok tok tok

Sara terus menerus mengetuk pintu Dika tanpa henti

Lagi lagi hanya mimpi

Dika pun langsung bergegas untuk membukakan pintu dan berlari ke kamar sang ibu 
Untuk menceritakan tentang apa yang terjadi di mimpinya

Ting

Dika membunyikan lonceng sambil menunggu sang ibu keluar dari kamar

Ting

"Dika! Ngapain kamu", Sara tiba tiba menarik Dika menjauh dari kamar sang ibu 
Dika mengernyitkan dahi

"Kamu jangan ganggu ibu hari ini ibu lagi sedih", Bisiknya

"Memangnya ibu kenapa?" Tulis Dika bertanya

"Aduh", Sara menepuk dahinya, "Gara gara Bima! Udah kamu sekarang makan aja, pokoknya hari ini gaada ganggu ibu" 
Nah habis itu, seperti biasa di pagi hari, biasanya Dika sarapan baru dia bakal mandi

Dan pas sarapan, dia juga ceritain lagi soal mimpi dia ke Sara. Cuma Sara masih nggak percaya dan bilang itu cuma mimpi

Sampe tiba tiba 
- Ia kembali -

Tok tok tok

Seseorang mengetuk pintu

Tok tok tok

"Eh?" Sara menoleh kearah ruang tamu, "Dika itu ada yang ngetok ya?"

Dika mengangguk

Tok tok tok 
"Eh iya iya bentar"

Dengan cepat, Sara pun langsung berlari untuk membukakan pintu rumah

"Assalamu'alaikum"

"Waalaikumsalam, EH KAKAK! BUU ADA KAKAK!" Dengan senang, Sara pun langsung memeluk sang kakak 
"Kakak kemana aja? Ibu dari kemaren sedih kakak ga pulang pulang, ayo kak masuk samperin ibu", Sara menarik narik Bima

Namun Bima hanya berdiri terdiam sambil tersenyum sekali dua kali

"Ayo kak masuk", Sara memaksa

Namun ia hanya menggeleng 
Lalu berkata, "Jangan percaya sama ayah"

"Apasih kakak, kakak kok omongannya kayak di mimpi Dika, yaudah aku panggilin ibu aja ya", Sara pun melepaskan genggamannya lalu berlari kearah kamar sang ibu 
"Assalamu'alaikum"

Baru saja ingin mengetuk pintu kamar ibu, tiba tiba seseorang mengucap salam di depan pintu rumah

"Eh waalaikumsalam", Sara pun langsung kembali berlari kearah ruang tamu, untuk mengecek siapa yang datang 
Disana, terlihat Pak Marhan serta tetangga tetangga lainnya yang tiba tiba saja datang ke rumah Sara secara bersamaan

"Ini ada apa ya?" Tanya Sara kebingungan

Lalu, Sara pun langsung dikejutkan oleh seseorang yang sudah di baluti oleh sebuah kain kafan 
"Ini ada apa? Itu siapa? Ini siapa yang meninggal?" Ucap Sara panik

"Yang sabar ya", Pak Marhan tiba tiba memberinya sebuah gelas air

" Yang sabar kenapa? Ini siapa yang meninggal?" Mata Sara mulai berkaca kaca 
Tiba tiba sang ibu membelai kepala Sara dan lalu mempersilahkan mereka untuk masuk

Saat itu, Sara di kejutkan oleh wajah sang ibu yang sudah sembab seperti habis menagis

"Yang ikhlas ya bu"

*** 
"Nggak ini ga mungkin, kakak pasti masih hidup. Tadi aku liat sendiri kakak dateng ke rumah"

Alih alih sedih atas kepergian sang kakak, Sara justru terheran atas kejadian yang ia alami kemarin pagi

"Udah Ra, mungkin kamu masih belum ikhlas" 
Ucap Rani yang ikut berduka cita atas kepergian kakak Sara

"Nggak Ran, aku yakin banget kemarin kakak tuh dateng ke rumah, bahkan aku meluk"

"Mungkin aja itu emang kakak kamu sudah meninggal, 
Cuma arwahnya masih ada" Reno tiba tiba ikut berbicara

"Arwah tapi orangnya udah meninggal? Bagaimana coba maksudnya?" Sambar Rani

"Hehe, nggak tau juga" 
Sebentar nanti dilanjut lagi

- Risella 
"Terus kalo itu bukan kakak aku siapa? Hantu?"

"Tapi kamu tau gak Sar", Doni tiba tiba ikut nimbrung, "Katanya, arwah seseorang yang meninggal biasanya masih gentayangan di sekitar rumah", Lanjutnya menjelaskan

"Masa sih?" 
"Iya maksud aku tuh tadi itu!" Ucap Reno

"Tapi kalau yang soal kayak gini, aku kurang tau, soalnya kamu sampe bisa meluk" Doni kembali berkata

"Ohh", Sara mengangguk pelan

*** 
Tok tok tok

"Assalamu'alaikum", Sara mengucapkan salam, "Bu, Dika, Sara pulang"

Tok tok tok

5 menit berlalu, namun tidak ada satu pun orang yang membukakan pintu rumah

"Assalamu'alaikum", Sara mencoba mengucapkan salam kembali 
Krek

"Oh Sara", Sang ayah menjawab

"Assalamu'alaikum"

"Iya, masuk masuk", Ucap sang ayah yang lalu membantu Sara menaruh sepatunya 
"Ayah", Sara mendongak, melihat kearah sang ayah, "Kemaren aku ngeliat kakak masih ada, terus kata temen aku-"

"Oh ya? Kalau gitu kita makan yuk sekarang", Ia memotong ucapan Sara dan langsung beranjak kearah meja makan 
Walaupun sedikit bingung dengan sifat ayahnya, Sara tetap mengikuti ayahnya dan lalu pergi ke meja makan

"Nih"

Ayah memberikannya sebuah piring yangg berisi sate padang, salah satu makanan kesukaan Sara 
"Kamu makan ya, ayah mau ke tempat temen dulu, nanti malem ayah balik lagi", Ia mengacak ngacak rambut Sara

Dan habis itu ayahnya langsung cabut ke rumah temennya 
"Alhamdulillah"

Brak brak brak

Baru saja ingin menyantap makanan tersebut, kaca dapur tiba tiba berbunyi seolah olah ada yang memukul 
"Aduh siapa sih?" Ucap Sara kesal

"SARA! JANGAN MAKAN SATENYA!"

"Astagfirullah"

Mendengar itu pun Sara langsung terkejut dan nyaris terjatuh dari kursinya. Siapa sih yang nggak kaget pas lagi santai santai pengen makan, 
Tiba tiba ada yang teriakin

"SARA! JANGAN COBA COBA MAKAN SATENYA!"

brak brak brak

"Kok kayak kenal suaranya", Pikir Sara

Brak

"SARA JANGAN PERCAYA SAMA AYAH, KALO KAMU MAKAN SATENYA, KAMU BAKAL SAMA KAYAK IBU" 
"Itukan suara kakak?!"

Menyadari itu pun Sara langsung beranjak dari kursi dan membuka hordeng jendela dapur

"Lah?" Sara terbingung, "Kok nggak ada siapa siapa? Atau cuma imajinasi aku doang", Tanyanya 
Ting ting ting

"ASTAGFIRULLAH", Teriak Sara terkejut, "Aduh Dika jangan ngagetin"

Tanpa ia sadari, Dika sudah berada di belakangnya sambil mengangkat sebuah buku yang bertulisan

"Kak, kenapa di piring ada belatung?"

*** 
- Sebelum kematian ibu -

Penyakit yang ibu dapat semakin memparah

Ayah sudah membawanya masuk ke rumah sakit berkali kali, namun dokter terus mengatakan bahwa beliau baik baik saja dan tidak perlu mendapat pengobatan khusus 
Aneh, rasanya ada sesuatu yang tidak beres di keluarga ini

Namun aku juga tidak tahu apa yang tidak beres, aku hanya merasa ada sesuatu yang janggal 
Semenjak kakak nyaris memakan piring yang berisi belatung, ayah tidak pernah ingin menatap, bahkan menyapa kami lagi

Apa ayah sengaja? Atau mungkin ayah memang sedang sibuk? 
Entahlah, aku tidak ingin memikirkannya

Satu satunya hal yang aku khawatirkan adalah penyakit ibu yang terus memparah 
Aku tidak tahu pasti penyakit yang sedang menyerang ibuku

Namun penyakit itu membuat ibu lumpuh dan tidak bisa berbicara

Sehingga kini aku dan kakakku harus tidur bersama ibu, hanya berjaga jaga bila terjadi sesuatu 
Ibu tidak sepenuhnya bisu sepertiku

Ibu masih bisa memanggil nama kami, namun cara bicara ibu tidak selancar dulu 
Seminggu berlalu, nafsu makan ibu berkurang, ayah pun tak kunjung pulang ke rumah

Entah apa perkerjaan ayah

Namunku harap, saat pulang nanti ayah membawa kabar gembira

*** 
"Bu?! Ibu?!" Sara berlari keluar dengan panik

Tepat pukul jam 1 malam, ia tidak mendapati ibunya berada di ranjang bersamanya.Padahal ia tahu bahwa ibu tidak bisa berjalan sama sekali 
"Bu? Ibu dimana?" Sara memanggil manggil

Satu per satu ruangan ia nyalakan lampunya, ia mengecek setiap ruangan sambil terus memanggil ibunya 
Namun, semua ruangan telah ia cek, bahkan ia masuki, tapi ia masih saja tidak menemukan ibunya dimana pun 
Maaf

Lanjut besok, soalnya gw gaboleh tidur malem
Maaf kalo ada yang typo tapi gw ga nyadar, maaf kalo alurnya masih kurang jelas, maaf juga kalo bahasanya kurang baku atau apa

Tapi besok pagi gw lanjut

Gn, makasiih yang udah mau baca sampe sini

- Risa 
Kecuali kamar ayah.

Kamar ayah berada di pojok rumah, bukan di dalam rumah lagi sih sebenernya udah di luar rumah kamarnya 
Tapi tidak ada satu pun yang di perbolehkan masuk disana. Karena itulah, Sara tidak berani untuk membukanya

Apalagi ruangan tersebut sangat gelap dan terlihat aneh 
Ia pun akhirnya berbalik dan beranjak kearah dapur 
"SARA!"

"EH IBU!"

Tiba tiba saja ibu terjatuh lalu terseret sampai ke ruang belakang

Sara yang panik pun ikut mengejar sekencang mungkin 
Braak

Namun ia terlambat, pintu belakang tersebut sudah tertutup, bahkan terkunci dengan sendirinya

"BU!! IBU??" Sara mencoba mendobrak pintu tersebut

Tidak mendapat jawaban dan tidak berhasil membuka pintu, Sara pun menjadi semakin panik 
Tidak kehabisan akal Sara memutuskan untuk menyusul ibu dengan keluar dari pintu depan

"Aduh mana kuncinya"

*** 
Kegaduhan apa yang terjadi? Mengapa berisik sekali

Dika membuka hordeng

"Mengapa sumurnya terbuka? Memang sedang ada yang pakai?" Pikir Dika 
"DIKA! DIKA!! BUKAA PINTUNYA"

Jeritan itu mengejutkan Dika, dengan cepat ia pun langsung membukakan pintu

"CEPAT! KUNCI CEPETAN!" Ucap Sara sesampainya ia di kamar 
Melihat keadaan Sara, tentu Dika sangat kebingungan dengan apa yang terjadi

Penasaran, Dika pun langsung mengambil buku tulisnya dan sebuah pulpen 
"Ada apa di luar?" Dika menulis

"Nggak nggak, kamu gausah tau, besok kita harus pergi ke rumah pak ustad", Balas Sara dengan nafas yang tersengal sengal

"Emangnya ada apa kak? Ibu dimana?" Tulis Dika lagi 
"Aku nggak tau, tapi pokoknya kamu sama aku ga boleh keluar kamar sama sekali. Besok kita keluar lewat jendela aja" 
Dika pun mengangguk dan langsung menyiapkan beberapa barang untuk di bawa esok pagi

*** 
- Nona merah -

"Ayo Dika cepetan pagi ini kita langsung ke rumah pak ustad"

Saat itu tuh masih jam 6 pagi dan mereka mutusin buat langsung berangkat 
Kenapa berangkatnya jam segitu? Karena rumah pak ustad cukup jauh dari rumah mereka

Dan kalo mereka berangkatnya jam 7/8 mereka bisa nyampe kesana jam 10 atau 11 
Trus kan rencana Sara itu keluar lewat jendela kan

Tapi ternyata pas coba di buka, jendelanya tuh gatau macet gatau apa. Cuma ga bisa di buka 
"Gabisa di buka, jadi kita gimana dong?" Sara mencoba memikirkan cara lain untuk tidak keluar dari kamar

"Emangnya ada apa sih kak?" Tulis Dika

"Ada sesuatu di luar dan itu bahaya" 
"Ada apa?"

"Nggak pokoknya gausah tau dan aku juga gamau tulis nama, tapi kalau emang gabisa di buka, yaudah kita lewat pintu depan tapi harus hati hati" 
Nah trus dah coba berkali kali, jendela nya emang gabisa di buka

Dan membuat mereka terpaksa lewat pintu depan 
*

Lah apaan pintu gw tadi kebuka lebar trus ketutup sendiri

Siapa yang masuk coba. Untung pagi jadi ga takut

Anyways lanjut

Krek

Sara membuka pintu kamar secara perlahan

"Dika kamu jangan liat ke belakang ya", Bisikan Sara sebelum mereka pergi dari kamar

Setelah Dika mengangguk mengerti, mereka akhirnya berjalan kearah ruang tamu 
"Jangan liat belakang jangan liat belakang", Dika terus mengulang kata kata itu dipikirannya

Walaupun begitu, sebenarnya ia masih penasaran dengan alasan kakaknya melarang ia untuk melihat ke belakang 
"Dika"

Seseorang berbisik dari belakang

"Jangan liat ke belakang jangan liat ke belakang", Dika terus memutar kata kata itu di kepalanya tanpa henti, sambil menunggu Sara membukakan pintu 
"Dika"

Bisikan itu terdengar lagi, kali ini suara bisikan itu mirip sekali dengan suara ibunya

"Ibu?" Dika menoleh (ini Dika ga ngomong itu cuma ngegumam aja)

"DIKA!" 
Apa yang dikatakan Sara ternyata benar, baru saja saat ia menoleh

Ia tiba tiba di sambut oleh seorang perempuan setinggi dua meter yang langsung mengejarnya setelah ia menoleh 
"AYO LARI", Sara menarik Dika

Dengan cepat mereka berlari ke luar pagar. Untungnya, pagar rumah mereka tidak terkunci dan membuat mereka bisa keluar dengan mudah

"CEPET KITA HARUS PERGI SEKARANG!"

*** 
Perempuan itu kini duduk diatas lemari

Rambutnya gimbal, besar, bajunya lusuh namun berwarna merah terang

Dan ia selalu tertawa jika aku hendak shalat, 
Itulah pesan terakhir yang ibu tulis di dalam bukuku

Sebelum ibu akhirnya lumpuh dan tidak bisa bergerak 
Dua hari setelahnya ibu di temukan tenggelam di dalam sumur belakang rumah

Aku dan kakak, tidak berhasil menemui pak ustad karena saat itu, beliau tidak ada di rumahnya 
Namun sebagai gantinya, kami memanggil om Rahma dan Tante Tia untuk menjaga kami di rumah 
Semenjak mereka datang, barulah jasad ibu di temukan di dalam sumur dengan keadaan sudah tidak bernyawa 
Seperti yang ku bilang, aku merasa ada sesuatu yang aneh di keluarga ini

Dan semua itu terjadi semenjak ayah pulang setelah bertahun tahun lamanya ayah pergi 
Aku sebenarnya tidak mengerti perkerjaan ayah, maupun apa yang ayah lakukan di saat salah satu anggota keluarga kami sakit

Namun yang aku dengar, perkerjaan ayahku haram

Aku tidak mengerti apa yang di maksud dengan perkerjaan haram 
Tapi saat ini aku sedang berharap bahwa ayah akan pulang untuk membantu ku dan kakak

*** 
- Tumbal terakhir -

Satu minggu berlalu, cewek yang di duga narik ibu ke dalam sumur masih berkeliaran di sekitar rumah 
Cuma cewek itu cuma bisa di liat sama si Dika. Sisanya nggak liat lm

Walaupun Sara sempet liat, semenjak tante sama omnya jagain mereka di rumah, dia ga pernah liat lagi 
Tapi semenjak Dika bisa liat cewek itu, dia ngalamin sakit parah yang persis kayak penyakit ibunya

Dan inilah bagian akhir dari cerita ini, tumbal terakhir

*** 
"Emang ayah kamu kemana Ra?" Tanya tante yang sudah lelah menjaga Dika sepanjang malam

"Aku gak tau, ayah emang sering gitu, jarang pulang"

"Emang ayah kamu kerja apa?" Tanyanya sambil menyuapi Dika 
"Hmm", Sara terdiam untuk sementara, mencoba memikirkan perkerjaan ayahnya, "Nggak tau juga sih, mungkin bos"

"Ohh", Tante mengangguk, "Hari ini ayah kamu pulang nggak?" Lanjutnya bertanya 
"Nggak tau, emangnya kenapa tante?"

"Hari ini tante mau pergi sampe besok pagi, kamu mau ikut atau di rumah aja?"

"Hah emangnya tante mau kemana?" 
"Tante mau balik dulu ke rumah nenek, buat ngambil barang barang biar di taro disini", Jelasnya, "Lagian juga nanti om pulang kerja, kamu tunggu aja" 
"Hah?" Sara terbangun dari tidurnya, "Udah jam 9? Om belom pulang?"

Sara kembali mengintip kearah jendela, namun ia masih saja tidak melihat motor om Rahma berada di teras rumah 
"Masa belum pulang? Emang om ngapain?" Pikir Sara

Lelah menunggu, akhirnya Sara pun memutuskan untuk kembali ke kamar untuk tidur bersama Dika 
Kreek

"Eh Dika?" Sara melihat sekitar, "LAH KOK DIKA NGGAK ADA?!" Ucap Sara panik

"Dika?? Dika!!"

Sara berlari lari ke sekitar kamar, namun tidak menemukan Dika dimana pun 
"Dika? Dika!!"

Ting ting ting ting

Trus tiba tiba tuh ada suara lonceng dari belakang rumah 
Ya Sara langsung ke belakang lah, ngikutin suara lonceng nya 
Ting

"Dika?" Sara membuka pintu belakang yang langsung menghadap kearah sumur

Ting

"Dika? Kamu dimana?" Tanya Sara sambil menyalakan lampu halaman belakang 
"Dika?"

Ting ting ting

Lonceng tersebut berbunyi lagi, kali ini berada di belakang sumur

"Dika?" Ucap Sara ragu, perlahan lahan, ia mencoba mendekati sumur tersebut 
Ting

"Dari belakang sumur?" Pikir Sara

Tidak ingin berlama lama, Sara pun langsung berlari ke belakang sumur tersebut

"BA!" Kejut Sara 
Hening.

Ternyata tidak ada satu orang pun yang berada di balik sumur

Tentu saja Sara sangat bingung dengan keadaan, jelas jelas dia denger suara loncengnya dari belakang sumur, tapi pas di liat malah gaada 
"Dika?" Sara mundur secara perlahan, ketakutan dengan apa yang sedang terjadi 
*apa yang sedang ia alami

Ting ting ting ting

Lonceng tersebut tiba tiba berbunyi tanpa henti dan membuat Sara semakin panik 
Sara pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke dalam rumah

Drassh (suara air itu gimana sih gw gatau)

Tiba tiba terdengar seseorang yang terjatuh dari dalam sumur 
"Jangan jangan", Sara menghentikan langkahnya, ia kembali berbalik dan melihat kearah belakang

"DIKA!"

*** 
"Assalamu'alaikum tante pulang"

Tok tok tok 
Tia mengetuk ngetuk pintu

"Assalamu'alaikum Sara", Tante Tia kembali mengetuk pintu

Tiga menit berlalu, namun tak ada satu pun orang yang menjawab salamnya, mau pun membukakan pintu untuknya 
"Sara? Dika? Assalamu'alaikum"

Tante Tia mencoba mengetuk ngetuk pintu lagi, namun ia masih saja tidak mendapat jawaban dari dalam 
Tante Tia mengernyitkan dahi

"Sara??" Tante Tia mencoba mengintip dari balik jendela, namun entah mengapa suasana rumah tersebut terasa lebih sepi dan hening dari sebelumnya 
Tante Tia pun akhirnya mencoba masuk melewati pintu belakang 
"Sara sama Dika mana? Tumben jam segini belum bangun? Ini juga motor Rahma kok nggak ada", Gumam Tia terheran 
"Assalamu'alaikum", Ucapnya sesampainya ia di halaman belakang

"Sepi banget?" Pikir tante Tia 
Namun karena ia sudah lelah mengangkat barang yang begitu berat, ia pun memutuskan untuk langsung masuk saja ke dalam rumah 
Lanjutannya pencet yang ini

maaf banget gw gatau kenapa bisa gini
Image
Kreek

Tante Tia membuka pintu kamar secara perlahan

"Loh Sara Dika? Kok nggak ada?" Ucapnya kebingungan 
Tante Tia mengelilingi keliling rumah, sambil memanggil manggil nama mereka

Namun entah mengapa, ia tidak mendapat satu pun jawaban dari mereka 
Ia pun menjadi panik dan kebingungan

"Kalo pencuri, nggak mungkin pintu depan masih ke kunci", Pikirnya 
Karena tidak menemukan keduanya di dalam rumah, ia pun memutuskan untuk langsung mencari mereka di belakang rumah 
"Sara? Dika?" Panggilnya 
Tante Tia melihat kearah sumur untuk waktu yang cukup lama

"Kenapa sumur nya terbuka?" Pikirnya sedikit curiga 
Ia pun mencoba mendekati sumur tersebut secara perlahan, dengan harapan

Sara dan Dika tidak berada di dalam sana

"ASTAGFIRULLAH HALADZIM"

*** 
Dan di saat itu

Sara dan Dika di temukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa di dalam sumur

Tidak ada satu pun orang yang tahu bagaimana hal itu terjadi 
Yang pasti, kini rumah itu sangat di takuti banyak orang karena rumor pesugihan tersebut 
Namun yang saya tahu, kini sumur itu sudah di hancurkan

Karena masih banyak orang yang pergi untuk beruji nyali di dalam rumah tersebut 
Dan rata rata, orang orang yang melihat kearah sumur tersebut akan terjatuh ke dalam

Entah mengapa 
Dan itu saja cerita dari saya

Terimakasih

*** 
Image
Maaf ceritanya kurang jelas

Maaf alurnya masih acak acakan

Maaf kalo masih ada beberapa bagian yang bingungin

Maaf lama banget ngelanjutin threadnya

Dan maaf kalo ga sesuai ekspetasi juga 
Maaaaf banget kalo masih kurang jelas ceritanya, kalo ada saran atau kritik bilang ajaImage
Tapi makasiih banget yang udah mau baca same akhir

Makasiih juga yang udah mau nungguin ceritanya

Source: Griisellaa

Keluarga Hantu di Ruko Batam

  Keluarga Hantu di Ruko Batam A Thread #memetwit   @InfoMemeTwit Oleh: Ghost Writer (Cerita nyata - cerita mistis) Sembilan belas tahun yan...

Pengikut

Pembaca Cerita Horror

Arsip Blog

Cari Blog Ini