MISTERI ANAK-ANAK PAK JAWI Part 2



Februari 2014

00:00 WIB

Chapter 6

SI PINCANG YANG MALANG

 

Brak! Duar! (Entah saya harus bagaimana mengilustrasikan suara motor jatuh, terus jatuh ke parit) Tapi yang saya tahu suara itu keras sekali terdengar dari luar rumah. Saya pun bergegas keluar

kamar, dan mendapati pintu rumah sudah terbuka. Saya pun keluar rumah disana sudah ada Bapak dan Ibu saya juga beberapa tetangga sedang berkerumun di pinggir jalan di depan rumah.

 

Setelah saya menghampiri kerumunan itu saya melihat “Sugik” sedang tergeletak di dalam parit di

pinggir jalan. Sugik masih sadar, hanya saja dia mengaduh sambil sesekali mengumpat.

 

Warga bergotong royong memindahkan motornya yang peot ke pinggir, tapi saat warga mau menolong sugik, sugik malah mengamuk. Dia beranjak dari parit tempat dia jatuh dan menuju ke tengah jalan,

dimana puing-puing motor dan kaca spionnya berserakan.

Tapi bukan itu yang jadi tujuan sugik. Diantara puing-puing motornya, ada seorang anak kecil duduk bersimpuh tepat di tengah jalan. Gak perlu dekat bagi saya untuk tahu kalau anak itu adalah

salah satu anak Pak Jawi “Si Pincang”.

 

Sugik menghampiri si pincang yang dari tadi hanya melongo ngadep langit tanpa bergerak sedikitpun. Saya bisa menebak apa yang akan di lakukan sugik sama itu bocah, makanya dengan cepat saya berlari menyusul sugik, berharap masih sempet

untuk menenangkan temen saya itu. Karena kalau enggak, itu si pincang bakal lebih pincang dari sekarang.

Tapii langkah saya terhenti, karena setelah saya menoleh ke belakang. Tetangga-tetangga saya yang awalnya berkumpul di pinggir jalan, satu persatu masuk ke dalam rumah masing-

masing tanpa menoleh sedikitpun ke TKP. Dan yang bikin saya lebih kaget, bapak dan ibu saya juga sudah ada di rumah. Hanya saja mereka masih melihat dari pintu.

 

Jedug!!!!

 

Pada saat saya menoleh ke arah sugik, saya sudah terlambat. Teman saya menendang si pincang entah berapa

kali, yang jelas posisi si pincang bergesar jauh ke pinggir jalan gara-gara tendangan si madun eh si sugik.

Sugik meluapkan amarahnya sambil mengumpat yang dalam bahasa Madura kira-kira seperti ini

 

“PATEK!! TAE BEKNA!! ANAKNA SAPA??? TERRO MATEA KERANA

MAK JUK TOJUK E TENGA JELEN??

MON TERRO MATEA, MATE DIBIK!! JEK NGAJEK ORENG!! CELENG!!”

 

(Sengaja gak diterjemahin, soalnya artinya kasar banget. Tapi warga Twitter di dunia nyata maupun gaib pasti tahu artinya)

 

Saya yang sudah ada di samping sugik berusaha menenangkan

temen saya yang tambun itu. Perlahan demi perlahan saya dorong sugik ke pinggir jalan. Saya masih ingat bau Miras melekat di badan sugik yang masih saja mengumpat keras banget.

 

Tapi suara sugik berhenti pas tiba-tiba terdengar bunyi lonceng. Lonceng yang sama yang dipake

pak jawi buat manggil anak-anaknya. Dan benar dugaan saya, di pinggir jalan sudah ada “Si jangkung” anak pak jawi yang paling tinggi. Dia menghampiri si pincang yang tergeletak di jalan, kemudian menggendongnya dan membawanya pergi.

 

Karena suasana yang sudah mulai hening,

saya pun bisa mendengar si pincang berbisik “Benni gule” yang dalam bahasa Indonesia berarti “Bukan saya”, kalimat itu diucapkannya berulang-ulang namun dengan suara yang kecil. Bahkan kalau diingat-ingat, si pincang sudah komat-kamit bahkan sebelum ditendang sugik.

“Akhirnya sugik tenang juga”

 

Pikir saya dalam hati. Tapi dasar orang mabok, dia masih aja ngoceh, malah nantang si jangkung berantem. Mungkin waktu itu yang datang menggendong si pincang Cuma si jangkung, tapi saya yakin sugik juga melihat kalau di balik pagar di dekat parit,

empat saudaranya yang lain sedang memperhatikan sugik dari jauh.

 

“KESINI KALAU BERANI!! ANAK SETAN!!!”

 

Mendengar umpatan sugik, si jangkung dan si pincang menoleh dengan mata melotot. Yaaaa mata yang sama dengan yang saya lihat malam itu. Saya juga yakin saudaranya yang lain

yang ada di balik pagar juga melakukan hal yang sama, soalnya itu pagar mulai gerak-gerak seperti ada yang dorong.

 

Syok! Untuk kedua kalinya saya melihat kejadian seperti ini. Tapi setidaknya saya tahu, bukan Cuma saya yang syok malam itu.

“Ada air sob??”

 

Tanya sugik yang bengong seolah-olah kehilangan keberaniannya.

Kembali ke rumah Pak Edi

 

Chapter 7

27 februari 2014

Situbondo, Jawa Timur

20:00 WIB

 

Yang Tak Pernah Lahir, dan Yang Tak Pernah Ada

 

Pak edi selaku tetangga yang saat itu berada di TKP kecelakaan yang menimpa sugik, merasa bersalah karena dia meninggalkan TKP

sebelum masalah selesai. Akhirnya dia pun mulai bicara

 

“Tolong apapun info yang kalian dengar dari saya, jangan lakukan apapun sama anaknya pak jawi! Jangan!!”

 

Saya mengangguk tanda setuju, kecuali anggukan sugik yang saya yakin hanya pura-pura setuju.

“Saya tidak tahu kapan tepatnya anak-anak pak jawi datang ke desa ini, tapi”

 

“Datang??”

 

Sugik menyela.

 

“Iyaa, datang. Gak ada satupun yang tahu kapan dan dimana mereka lahir. Hanya saja menurut pengakuan pak jawi, mereka lahir di kampung halamannya dan baru kesini setelah

umur 6 tahun. Karena istrinya tidak sanggup membiayai mereka berenam, akhirnya pak jawi lah yang merawat mereka”

 

Saya masih ingat pertanyaan saya tentang istri pak jawi yang saya berjanji sama diri sendiri gak bakal nanyain itu lagi sama beliau, apalagi sama anak-anaknya.

“Istri pak jawi, masih hidup?? Terus sekarang ada dimana??”

 

Tanya Sugik.

 

Pak edi menyandarkan badannya yang dari tadi membungkuk ke meja, seolah-olah obrolan selanjutnya tidak lagi setegang barusan.

 

“Itu dia Dek, jangankan masih hidup atau sudah mati. Saya aja gak tahu

istrinya beneran ada atau enggak. Pernah sekali saya ke rumah pak jawi untuk kepentingan sensus, dan karena alasan yang sama saya juga harus menyakan tentang istri beliau. Tapi ……..”

 

Ekspressi pak edi berubah total, badannya pun kembali membungkuk, dan kali ini dia menghisap

rokoknya enam kali sebelum akhirnya geleng-geleng kepala.

 

“Apa waktu itu bapak ke rumah beliau pas malam hari??”

 

Tanya saya, yang di respon oleh anggukan pak edi

 

“Apa waktu itu ada anak-anak pak jawi disana?”

 

Sekali lagi pak edi mengangguk, tapi kali ini lebih pelan dan berat

dari sebelumnya.

 

“Kalau gitu saya tahu apa yang pak edi lihat”

 

Pak edi menggaruk-garuk kepalanya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih memegang rokok yang sebenarnya sudah tinggal puntungnya.

 

“Kalau gitu kami pamit pak, masalah sugik biar kami cari jalan

keluarnya sendiri. Kami gak tahu siapa yang bisa bantu kami, polisi atau orang lain. Tapi kalau nanti terbukti adanya faktor gaib di balik anak-anak pak jawi, saya minta bapak bisa ambil tindakan”

 

Saya menepuk pundak sugik yang terdiam lesu karena sepertinya dia tidak menemukan

jawaban yang dia cari. Saya memapah dia kembali ke kursi rodanya. Ada rasa iba setiap kali melihat kaki sugik, kecelekaan kemarin malam itu pasti parah banget sampai dia harus kehilangan kakinya. Dan sekarang dia harus merasakan nasib yang sama seperti si pincang yang pernah

dia tendang.

 

Meskipun ada yang masih menganggu di benak saya. Sugik masih bisa berjalan bahkan menendang orang kuat sekali setelah kecelakaan itu. Tapi sekarang kakinya malah lumpuh. Karena kecelakaan kah, atau???

Chapter 8

3 maret 2014

Situbondo, Jawa Timur

13:00 WIB

 

Mereka yang Tak Punya Nama

 

1. Se Perot (Si peyot)

2. Se Lempo (Si gendut)

3. Se Teleng / Se Keler (Si Juling)

4. Se Dippang (Si Pincang)

5. Se Kotol (Si Buntung)

6. Se Tenggi (Si tinggi)

Kira-kira begitulah warga menyebut keenam anak pak jawi ini dalam bahasa Madura. Karena sampai sekarang pun tidak pernah saya mendengar ada yang memanggil mereka, entah itu tetangga, saudara-saudaranya, bahkan pak jawi sendiri. Yang saya tahu, mereka hanya memanggi satu sama

lainnya dengan menggunakan sebuah lonceng.

 

Siang ini panas sekali, mungkin musim hujan sudah hampir berakhir. Saya memilih untuk merapikan kertas-kertas ini, kemudian mandi dan pergi cari minuman dingin.

 

Kadang saya merasa aneh dengan apa yang saya lakukan akhir-akhir ini,

entah kenapa saya jadi terobsesi dengan Pak Jawi dan keenam anaknya, sampai-sampai saya diam-diam melakukan penyelidikan hanya untuk mencari tahu riwayat dari keluarga pak jawi yang sebenernya.

 

Memang sempat terlintas di benak saya kalau saya terlalu berlebihan memikirkannya.

Mereka berenam hanyalah anak-anak biasa, yang mungkin kurang beruntung karena harus terlahir cacat. Semua perilaku aneh mereka bisa jadi karena didikan dari pak jawi yang tidak maksimal, maklum beliau sudah tua. Dan tentang kondisi pak jawi yang bungkuk tapi tiba-tiba sehat lagi

pas malam datang, hmmm bisa jadi penyakit bungkuknya gak permanen, alias sesekali kumat.

 

Berbagai spekulasi yang didasarkan pada logika dan positif thinking pun saya kumpulkan dan saya coba untuk meyakinkan diri sendiri bahwa gak ada yang aneh dari keluarga pak jawi. Tapi

sayangnya itu sia-sia, ada beberapa hal yang sudah beberapa kalipun saya coba pecahkan dengan logika tapi gagal, karena memang sepertinya jauh dari nalar manusia.

Beberapa diantaranya adalah

1

Segera setelah kecelakaan yang menimpa sugik, pada malam yang sama dan hanya

berselang 5 menit, Saya putuskan untuk kembali ke TKP. Ada seseuatu yang harus saya temukan kalau saya ingin tidur nyenyak malam itu. Tapi sialnya, setelah hampir 20 menit mondar-mandir di pinggir jalan saya tidak menemukan apa yang saya cari. Saya tidak bisa menemukan jejak kaki

dari si pincang. Dia pincang dan hanya bisa berjalan dengan cara ngesot, atau merangkak jadi pasti ada bekas atau jejak yang dia tinggalkan di pinggir aspal. Tapi jangankan jejak di pinggir jalan, tai kuda di samping dia duduk aja bentuknya masih bagus seperti gak kesentuh.

Apa jangan-jangan dia muncul tiba-tiba di tengah jalan??? Atau mungkin si jangkung sengaja naruh dia di tengah jalan??

 

2

Sepulang maen basket sore kemarin, saya sempetin lewat Gang kadal. Seperti biasa rumah pak jawi sepi, dan tidak ada tanda-tanda dari anaknya. Tapi bukan itu

yang saya cari, saya hanya penasaran sama rumput di kandang sapinya. Ini sudah lebih dari satu minggu sejak terakhir kali saya melihat kandang sapi pak jawi. Tapi rumputnya masih disana! Masih segar, bahkan lebih banyak dari sebelumnnya. Saya tidak bisa berlama-lama disana karena

tanpa disadari oleh saya, ayunan di pohon yang paling pojok dari tadi bergoyang-goyang, soalnya si juling lagi main disana dan sudah dari tadi memperhatikan saya sambil senyum.

 

3

Pak Jawi tidak bisa menjawab salam saya soalnya dia bilang lagi wudhu, di dekat sumur yang seingat

saya sumur itu tidak ada katrolnya. Jadi tidak mungkin pak jawi ngambil wudhunya nyebur ke dalam sumur. Untuk memastikan hal itu, pagi sekali sebelum berangkat kuliah saya sempetin lewat gang kadal. Dari jauh saya lempar batu ke arah sumur itu, berharap mendengar suara batu jatuh

ke air “Plung” . Butuh 3 kali percobaan buat saya yang notabeninya pemain basket untuk bisa masukin batu kampret ke dalam sumur kampret itu dan KAMPRET nya lagi bukan suara batu nyemplung ke air, tapi suara orang berteriak

 

Aaaaaaaww!!

 

4

Apapun alasannya, bagaimana mungkin

satu RT ini bisa kompak untuk sama-sama mengabaikan anak-anak pak jawi, dalam kondisi dan situasi apapun. Lagian, apa alasan mereka?? Takut?? Saya sudah hampir satu bulan di rumah baru ini, mungkin sudah saatnya untuk lebih dekat dengan tetangga, agar saya bisa dapat alasan dari

tindakan pengasingan yang mereka lakukan. Saya sudah coba dengan ayah dan ibu saya yang sepertinya mereka sudah tahu, tapi memilih untuk tidak ikutan, dan bahkan menyuruh saya untuk tidak terlibat.

 

Sampai saat ini baru itu yang bisa saya kumpulkan. Dan mulai saat ini juga saya

memutuskan untuk tidak lagi peduli sama pak jawi dan keluarganya. Saya punya hidup yang harus saya urus, dan selama mereka tidak mengusik hidup saya, saya tidak punya alasan untuk mengusik hidup mereka.

 

Bersambung ke Chapter 9

Chapter 9

Juni 2014

06:30 WIB

 

Teman yang Hilang

 

Saya benci keramaian. Bahkan sempet divonis phobia sama keramaian. Trauma soalnya pas kecil pernah ketinggalan di pasar, dan baru dijemput jam 4 sore. Kadang mikir,

 

“Bapak Ibu itu sadar gak sih kalau punya anak??”

Abisnya butuh waktu ber jam-jam buat sadar kalau anaknya hilang. Tapi Saya termasuk anak yang nurut sama orang tua, kecuali di saat-saat tertentu barulah saya jadi anak yang pemberontak. Seperti sekarang ini!! Setelah semua terapi phobia yang saya jalani, dan sedikit demi sedikit

ada perkembangan, pagi ini saya malah disuruh Ibu, “KE PASAR”

 

“Ibu itu sadar gak sih kalau anaknya takut”

 

Anyway usia sudah 23 Tahun, meskipun jomblo, itu bukan alasan saya harus manja. Banyak yang bilang, anak pertama hatinya harus setangguh baja, bahunya harus sekuat karang..

Ngomong-ngomong bahu, saya jadi ingat Pak jawi si bungkuk. Di antara keenam anaknya, yang mana yang sulung dan yang mana yang bungsu ya?? Ini sudah beberapa bulan saya gak ketemu salah satu dari mereka. Saya pernah beberapa kali melihat pak jawi belanja ke toko Mbak Rid, dan

diluar dugaan Reaksi mereka melayani Pak Jawi bak melayani Pak kiyai. Santun, halus dan penuh hormat. Benar kata pak Edi, Pak Jawi sangat disegani warga disini. Tapi perlakuan mereka terhadap anak-anaknya sangat bertolak belakang.

 

Damn! Membayangkan anak-anak pak jawi, membuat

perasaan saya campur aduk antara kasihan dan takut. Sampai-sampai kaki saya geli, seperti ada yang menggerayangi dan

 

“Cak… cak….. uooon cak”

 

Anjaaaaay!!! Jantung saya seperti mau koprol, Mijon yang baru saya minum setengah juga kebanting gara-gara anak kecil ini narik-narik

celana saya yang lagi duduk di motor. Tapi saya cepet-cepet kalem, soalnya nih anak malah ikutan kaget ngelihat saya kaget.

 

“Kenapa dek??”

 

Tanya saya halus

 

“Uoon cak”

 

Dalam bahasa Indonesia berarti “Minta mas”. Saya langsung meraba saku nyari recehan, tapi mungkin emang

rejekinya nih anak ya, yang ada di saku Cuma lima ribuan. Sempet terpikir buat minta kembalian tapi saya gak sepelit itu.

Sebelum ngasih uang, saya perhatiin anak perempuan ini kisaran umur 10 tahun cukup bersih untuk ukuran pengemis. Iseng-iseng saya nyuruh dia buat buka masker

yang dipakenya, tanpa banyak nanya dia pun nurut

 

“Pilek elongnga gule cak” (Pilek hidungku mas)

 

Saya merasa lega, bukan karena dia pilek tapi karena mulutnya gak miring ke kiri. Abis saya kasih uang dia cabut pergi. Gak sampai jarak satu meter, dia narik-narik celana bapak-

bapak yang ada di depan saya. Bapak-bapak yang lagi nungguin istrinya belanja itu duduk di motor sambil jagain anaknya yang lagi ngemil. Anaknya gendut, rambutnya poni, dan pas saya lihat bagian mulutnya saya lega, soalnya yang belepotan di mulutnya itu es krim, bukan iler.

Bahkan di tengah keramaian gini pun saya masih parno kalau ngelihat anak kecil. Jam sudah menunjukkan pukul 07:15 tapi belum ada tanda-tanda Ibu saya keluar dari pasar. Gelisah pun menghampiri karena perut lapar nan perih. Celingak-celinguk sana-sini berharap ada makanan, tapi

yang saya dapat adalah sebuah penampakan.

 

Apa yang saya lihat kali ini bukan lagi hanya bayangan anak pak jawi, tapi benar-benar seseorang yang sudah sejak lama saya tunggu kabarnya tapi dia malah hilang.

 

“Bro”

 

Sugik melihat ke arah saya sambil masih memegang ikan.

“Woy kamu bro!! Apa kabar? Lama gak kelihatan bro”

 

Ada jeda beberapa detik sebelum sugik memulai aktik sok bronya. Saya tahu dia kaget melihat saya. Dan saya tahu ada yang dia sembunyiin. Sementara dia ngoceh sok asik, saya memperhatikan kondisi kakinya yang secara ajaib sembuh.

Yaa ini memang sudah lebih satu bulan sejak dia kecelakaan, tapi sayalah yang mengantarnya ke dokter, dan saya masih ingat dokter bilang sugik gak akan sembuh dalam waktu dekat, kalaupun harus bekerja dia harus pakai tongkat. Tapi tangannya gak megang apapun selain Ikan.

“Udah sehat sob??”

 

Tanya saya basa dan basi. Sugik menggoyang-goyangkan kakinya seolah pamer kalau dia punya kaki baru.

 

“Syukurlah kalau gitu sob, ya udah lanjutin kerjanya dulu! Saya gak mau ganggu, soalnya kamu kan sudah jadi orang sibuk”

Saya sangat ahli soal sarkasme dan

sindiran, dan semua teman saya tahu itu, termasuk sugik. Dia gak bisa pura-pura lupa kalau sudah mengabaikan SMS dan telepon saya, bahkan saat saya dan teman-teman Band datang buat jenguk dia, dia malah nyuruh adiknya buat bilang kalau dia lagi di Rumah sakit, Kampret.

Akhirnya si sugik pamit sama temen-temennya yang juga kerja di gudang ikan, terus ngajak saya duduk di luar. Dia minta maaf sama saya, meskipun dia gak mau ngaku salahnya apa. Tapi mungkin karena sudah kepalang tanggung, akhirnya dia buka mulut.

 

“Aku ke rumah Pak Jawi sob”

Sugik bilang gitu sambil maen-maenin jarinya seperti anak kecil yang lagi takut. Saya harus tetap bersikap tenang, biar temen saya bebas dan leluasa ngomong, ga ada yang dia sembunyiin lagi.

 

Sugik cerita kalau salah seorang saudaranya ngajak dia ke rumah tabib yang katanya bisa

nyembuhin banyak penyakit. Merasa depresi karena kakinya yang lumpuh, sugik iyain aja ajakan saudaranya itu.

 

Sampai di rumah tabibnya sugik Cuma dipijat sebentar, terus disuruh minum jamu yang pahitnya minta ampun. Sampe – sampe dia praktekin tuh ekspresinya waktu

minum jamu itu. Dan pas sugik mau pamit pulang, dia ngelihat si tinggi keluar dari rumah tabib itu, barulah dia sadar sedang ada di rumah siapa dia sekarang. Tapi sugik diem aja, dia gak bisa bayangin gimana kalau pak tabib itu tahu, kalau dia yang sudah nendang

salah satu anaknya. Belum lagi ekspresinya si tinggi pas ngelihat sugik, ngingetin dia sama kejadian malam itu. Dan ya! Tabib itu gak lain dan gak bukan adalah “Pak Jawi”.

 

Bangun pagi keesokan harinya, kakinya gak sengaja nginjak Obat nyamuk spontan sugik teriak kesakitan

sekaligus senang, soalnya kakinya sembuh.

 

“Jamu???”

 

Tanya saya sambil ngebayangin jamu yang sering di minum sama Ibu.

 

“Iya jamu, hijau, gelap, pahit, bau teruuus”

 

Saya menyela omongan sugik soalnya saya sudah tahu jamu yang dia maksud.

 

“Udah-udah, saya tahu jamunya

seperti apa. Sekarang, karena kamu sudah mau terbuka sama saya, saya mau nanya sesuatu sama kamu.

Saya harap kamu jawab dengan jujur, sama jujurnya seperti barusan”

 

Sugik ngelihat saya dengan tatapan takut, khawatir tapi pasrah. Dan Bener, sugik jawab semua pertanyaan saya

tanpa terkecuali, dan entah kenapa meskipun saya sudah dapat jawaban dari salah satu hal yang mengganggu pikiran saya, jawaban itu justru menimbulkan pertanyaan baru

 

“Siapa sebenarnya anak-anak Pak Jawi??”

Chapter 10

Juni 2014

14:30 WIB

Situbondo, Jawa Timur

 

PENGAKUAN SI MABOK

 

Ternyata memang gak bisa. Sudah kurang lebih dua bulan saya memalingkan diri dari hal-hal yang berbau Pak Jawi. Sebanyak apapun cerita warga yang saya dengar, saya berusaha menahan diri untuk tidak

penasaran dan mencari tahu tentang mereka lagi. Tapi pertemuan saya dengan sugik tadi seperti mengobarkan rasa penasaran yang sudah lama saya pendam, bahkan kali ini berkobar lebih besar.

 

Masih jelas saya ingat, waktu 20 menit yang saya habiskan mondar-mandir di pinggir jalan,

tengah malam setelah kecelakaan sugik di depan rumah. Waktu itu saya terlalu fokus mencari jejak dari si pincang yang secara tidak masuk akal tiba-tiba muncul di tengah jalan. Dari saking fokusnya saya sampai melupakan hal lain yang sebenarnya lebih gak masuk akal.

Katakanlah sugik banting setir menghindari si pincang yang ada di tengah jalan, entah sugik gak lihat karena mabok atau si pincang yang tiba-tiba nongol, apapun itu kenapa harus ada pecahan kaca spion, serpihan sayap ban motor dan puing-puing bagian motornya

yang lain di tengah jalan?

 

Posisi motor pasca kecelakaan itu berada di dekat si pincang, yang berarti jauh dari sugik yang nyemplung ke parit (saya seringkali ketawa kalau ingat dia yang nyungsep di parit). Selain itu, saya juga gak melihat ada bekas goresan di aspal, kalau

memang sugik dan motornya nyosor sampai ke parit.

 

Dari semua itu saya Cuma bisa menyimpulkan kalau sugik menabrak si pincak sampai mental ke parit. Keliatan dari bagian depan motor maticnya yang peot, seperti habis tabrakan keras banget.

 

“Peot ? Nabrak Apa? Si Pincang??

Anak Umur 6 Tahunan yang ditendang orang mabok aja melayang?”

 

Saya berada dekat dengan si pincang saat berusaha menenangkan sugik, tapi si pincang justru sehat wal afiat. Bekas peot seperti itu kalau nabrak manusia, 100 persen manusianya juga peot, bisa juga berdarah. Tapi saya

gak lihat ada darah sedikitpun di badan si pincang.

 

Semua itu masih menghantui pikiran saya, sejak kecil tumbuh dengan komik detektif membuat saya sering berlebihan memikirkan sebuah hal yang sedikit tidak masuk akal. Tapi saya sudah cukup dewasa untuk tahu, bahwa masalah ini

bukan lagi sedikit tapi sangat tidak masuk akal.

 

Tapi setidaknya sugik sudah menjelaskan kejadian sebenarnya sama saya, dan benar dugaan saya!

 

SUGIK TIDAK PERNAH MENGHINDARI APAPUN, DIA MENABRAKNYA

Flashback ke Pasar

 

Chapter 11

Juni 2014

07:00 WIB

Situbondo, Jawa TImur

 

Hitam Bermata Merah

 

Nabrak??? Si pincang???”

 

Tanya saya dengan sedikit gemetar, gak bisa bayangin anak sekecil itu ditabrak motor. Tapi tangan sugik lebih gemetar dari pada suara saya, saya bisa lihat

wajah ketakukannya saat dia berkata

 

“Bukan! Bukan si pincang, tapi …….. Lembu”

 

Whaaaat???? Saya semakin bergetar, tapi kali ini karena menahan tawa. Bagaimana mungkin saya bisa anggap serius omongan sugik, orang mabok, ngantuk yang nabrak sapi, tengah malam, di tengah jalan??

Saya pasti gila kalau percaya sama nih badut.

 

“Kamu boleh tertawa sob, boleh gak percaya. Soalnya aku sendiri gak percaya sama apa yang aku lihat. Aku memang dalam kondisi mabok, tapi aku masih ingat dengan jelas. Seekor lembu hitam dengan mata yang merah dan tanduknya yang

putih, tiba-tiba melintas di tengah jalan. Aku gak nutut mau ngerem, kulitnya yang hitam samar-samar di gelap malam, baru keliatan jelas pas udah sejengkal sama motor. Aku gak ingat apa-apa tahu-tahu sudah ada di parit sob. Pas aku lihat ke tengah jalan, bukannya lembu tapi malah

anak kecil. Disitu aku berusaha nyadarin diri sendiri, kalau tadi aku lagi mabok.

 

Saya kenal sahabat saya ini sudah lama, dia memang short temper, sering bertingkah bodoh, tapi dia jujur. Saya hanya coba menenangkan sugik dengan meyakinkan dia kalau lembu itu Cuma hayalan, bisa

jadi dia nabrak batu dan batu itu mental juga entah kemana arahnya.

 

Tapi itu semua hanya buat nenangin sugik, sementara pikiran saya sendiri masih was-was karena selain kaca spion dan puing-puing motor, di sebelah si pincang waktu itu juga ada beberapa

 

Tai Sapi alias BULLSHIT

Balik lagi ke rumah saya

 

Chapter 12

Juni 2014

15:00

Situbondo, Jawa Timur

 

Kesempatan

 

“Tok-tok tok tok”

 

Suara pintu digedor itu membuyarkan lamunan saya tentang tai sapi. Saya buka pintu kamar, ternyata ibu saya. Beliau minta di pesenin jamu lagi ke rumah pak jawi. Tapi kali

ini ada yang beda dengan cara beliau nyuruh saya

 

“Nak, kamu mau gak Ibu suruh ke rumah pak jawi buat pesen jamu?? Kalau gak, ibu nyuruh farah saja”

 

Tumben Ibu nyuruh pakai kata-kata “Mau gak??” mungkin beliau sudah ngerti gimana stressnya saya gara-gara keluarga pak jawi. Tapi

entah kenapa saya ngerasa ini adalah kesempatan bagus untuk pergi ke rumah pak jawi, dan melihat lebih dekat lagi gimana dia dan anak-anaknya. Lagian saya gak mungkin

biarin Farah, adik perempuan saya yang masih SMP pergi ke tempat itu.

 

Tangan saya gemeteran, saya gak tahu ini rasa takut atau rasa gak sabar.

Chapter 13

Juni 2014

17:00

Situbondo, Jawa Timur

 

Kursi yang Patah

 

Tidak ada yang berubah dari kakek-kakek yang sedang duduk di depan saya ini, dia masih sama seperti terakhir kali kami bertemu. Pak Jawi bercerita basa-basi tentang masa mudanya yang katanya sih

mantan mariner (Pffff). Selagi dia cerita panjang lebar, saya manfaatkan hal ini untuk curi-curi pandang ke sekeliling halaman rumahnya.

Ada enam pohon mangga, jumlah yang pas dengan anak-anak Pak Jawi, sengaja ditanam enam, atau gimana saya juga gak tahu. Disetiap pohon ada

ayunan, saya pernah melihat si juling maen di salah satu ayunannya. Ada juga obor yang kalau malam di nyalain. Gak banyak yang bisa saya lihat di halaman rumahnya, jadi saya periksa terasnya. Kursi plastik yang dia duduki salah satu kakinya pernah patah, ada bekas solasi dan

lakban disitu. Tapi semua masih dalam batas normal, hanya ada satu benda yang menarik perhatian saya, yaitu sebuah FOTO!

 

Ada beberapa foto terpajang dengan figura di ruang tamu pak jawi, beberapa diantaranya adalah foto anak kecil, sisanya hanya pemandangan doank, gak ada orang

ataupun benda apapun. Agak jauh letak foto itu jadi saya gak bisa pastiin itu foto siapa, yang jelas itu foto anak kecil.

 

“Nak????”

 

Terlalu fokusnya saya memperhatikan foto sampai saya gak sadar kalau pak jawi sudah selesai ngomong.

Akhirnya saya gak punya alasan lagi

buat lama-lama disini, tapi gak apa-apa nanti malam saya akan kesini lagi buat jemput jamu, dan pastinya ketemu anak-anak pak jawi.

 

“Jamunya bisa dijemput besok pagi ya nak”

 

Whaat??? Saya gak bisa menyembunyikan rasa kecewa dan heran saya. Tumben, kemarin aja malam langsung

jadi, kenapa sekarang enggak??? Atau mungkin dia gak mau saya ketemu sama anak-anaknya lagi.

 

Anyway gak apa-apa saya gak bisa maksa, akhirnya saya pamit salaman. Pak jawi berusaha bangun dari tempat duduknya dan

 

“Ops!!”

 

Beliau hampir saja jatuh, soalnya itu kursi patah lagi

pas dibagian solasi sama lakbannya. Tapi bukan itu masalahnya, yang ngebuat saya ngerasa gak nyaman adalah pak jawinya. Saya semakin penasaran dengan bungkuknya pak jawi ini setelah barusan secara spontan memapah badannya, dan ternyata

 

“PAK JAWI JAUH LEBIH BERAT DARI PERKIRAAN"

Chapter 19

Juli 2014

Situbondo, Jawa Timur

01:30 WIB

 

Mimpi

 

Tik……

Tik………..

Tik……………

 

Gerimis……

Masih tidak berhenti. Hanya kali ini saya bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Suara tetes air dan tubuh manusia yang jatuh ke tanah basah, secara bersamaan.

Satu….

Dua….

Tiga…

Empat….

 

Ada empat suara tubuh manusia yang jatuh ke tanah yang bisa saya hitung. Termasuk tubuh saya sendiri Bau tanah yang bercampur dengan bau darah, membuktikan kalau penciuman saya masih normal. Tapi gelap. Gelaaaap banget. Andai ada sedikit aja cahaya

lampu, saya bisa tahu dimana sebenernya saya sekarang ini.

 

“Di rumah lah!!!”

 

Suara Farah adik perempuan saya membuat saya terbangun. Butuh beberapa detik untuk membuat pandangan saya yang buyar menjadi normal lagi, barulah kemudian saya bangun.

 

“Mas belum sholat isyak,

sholat dulu sana!! Baru tidur lagi!! Lagian ngapain tidur sini??? Pindah gih!”

 

Farah meninggalkan saya yang masih pusing dan bingung dengan apa yang terjadi. Saya meraba-raba tempat dimana saya berbaring, Lembut dan hangat

 

“Ini kursi di ruang tamu saya”

 

Barulah saya sadar

kalau saya ada di rumah. Saya melihat jam tangan saya yang sudah menunjukkan angka 01:35 . Jam segini Farah dan Ibu saya biasa bangun untuk sholat malam. Saya mencoba berbaring sedikit lagi, menatap langit-langit rumah dan sedikit demi sedikit menggambarkan kejadian yang saya

alami di dalam mimpi saya. Betapa mengerikannya kejadian yang saya alami itu, andai itu terjadi di dunia nyata, saya pasti akan berharap kalau itu semua hanya mimpi.

 

Sayup-sayup saya mendengar suara bising yang berulang-ulang dari kejauhan. Semakin lama suara itu semakin jelas

terdengar, dan segera setelah suara itu cukup dekat barulah saya tahu kalau itu suara sirine.

 

Saya beranjak ke luar, menuju halaman rumah yang kebetulan ada di pinggir jalan utama ke desa. Dan melintaslah sebuah mobil pemadam kebakaran yang disusul ambulan dan mobil polisi.

“Ada apa sih?? Ada kebakaran ya?”

 

Tanya ibu dan Farah yang berdiri pintu sambil masih mengenakan mukenah.

 

Mobil-mobil itu berhenti di pinggir jalan yang kira-kira 3 rumah dari rumah saya. Terlihat semua pesonilnya sibuk membawa peralatan pemadam, dan tandu, lalu kemudian

bergegas masuk ke Gang Kadal.

 

Tanpa pikir dua kali lagi saya melihat ke langit di belakang rumah saya, dan benarlah. Ada cahaya merah dan pekatnya kepulan asap dari arah ujung gang kadal.

 

“Rumah Pak Jawi kebakaran???”

 

Karena khawatir, saya pun berniat untuk menuju TKP.

“Mau kemana nil??????”

 

Tanya Ibu saya.

 

“Rumah pak jawi kebakaran Bu!! Pengen lihat”

 

Tapi ibu saya menggeleng-gelengkan kepalanya, pertanda saya tidak direstui.

 

“Jangan nak!! Ibu, Farah, sama Mbah sendirian disini. Bapakmu pergi keluar barusan”

 

Grrrrrrrrh!!! Rasa penasaran

dan rasa khawatir saya bercampur aduk. Akhirnya saya pun memilih tinggal.

 

“Saya harus tenang, lagian sudah ada pemadam kebakaran sama ambulan. Mudah-mudahan aja Pak Jawi gak kenapa-kenapa”

 

Ucap saya dalam hati.

Saya melihat sekeliling, tidak satupun ada warga yang keluar rumah,

sejak saat itu secara resmi saya deklarasikan

 

“I HATE THEM ALL”

 

Akhirnya saya sadar betapa ngantuknya saya, saya masuk kamar berharap bisa segera mempertemukan bahu dengan tempat tidur saya, tapi saat saya menghidupkan lampu kamar, saya terkejut seperti tersengat listrik.

Bukan karena tangan saya kesetrum saklar tapi karena kepala saya mendadak seperti mendownload semua ingatan sementara saya yang sempat buyar karena syok. Semua itu karena saya melihat banyak sekali lumpur di lantai kamar saya, di sandal, di jaket dan bahkan di celana

yang saya pakai.

 

Barulah saya sadar kalau apa yang saya alami tadi, bukanlah mimpi

 

“Erik????”

 

Ingatan saya langsung tertuju sama sahabat saya yang malang itu, tapi menghubunginya sekarang juga percuma biarlah dia istirahat,

karena bukan hanya mentalnya yang syok tapi tubuhnya juga babak belur.

Chapter 20

Juli 2014

Situbondo, Jawa Timur

08:00 WIB

 

Api dan Amuk

 

Garis polisi melintang di sepanjang pagar rumah pak jawi, beberapa aparat kelihatan mondar-mandir keluar dari rumah pak jawi, sementara aparat yang lain menjaga warga agar tidak masuk ke area TKP.

 

“Kalau sudah begini, mereka semua baru bermunculan seolah-olah ini tontonan. Tapi tadi malam, gak satupun ada yang menolong, keluar dari rumah pun tidak”

 

Gerutu saya dalam hati, saya pun melihat sosok laki-laki yang saya kenal sedang berada di sisi lain garis polisi tepatnya

di dalam TKP, dan orang itu adalah “Bapak Saya”

 

“Kemana orang itu pas kebakaran semalem?? Kenapa keluarga saya jadi ikut-ikutan menjauhi Pak Jawi, padahal kami baru saja pindah kesini??”

 

Saya cuma menghela nafas panjang karena saya sendiri sadar, saya juga memilih untuk

tidak kesini pas kebakaran berlangsung. Andai saja semalem saya gak dalam keadaan syok, mungkin saya sudah mengabaikan larangan Ibu saya dan berlari kesini.

 

“Woy!!! Jangan Pak!!”

 

Seorang polisi memegang punggung saya karena tanpa disadari, saya hampir melewati garis polisi.

“Oh gak apa-apa pak, dia anaknya Pak Musa orang yang semalam menelpon pemadam kebakaran dan kantor polisi”

 

Sahut pak edi yang kemudian meminta ijin membawa saya masuk ke TKP.

 

“Lhoo, bapak saya yang nelpon polisi semalem??? Pantes semalem dia gak ada di rumah, mungkin dia

pergi kesini sama pak edi”

 

Gumam saya dalam hati, dengan sedikit rasa bersalah karena sudah suudzon sama bapak sendiri.

 

Pak Edi merangkul saya, membawa saya ke tempat yang sekiranya tidak terdengar polisi.

 

“Denger dek, mungkin setelah ini bakal banyak polisi atau intel yang

nyari kamu sama temen kamu itu. Untuk sementara ini kamu bisa diam dan bilang saja tidak tahu apa-apa”

 

Saya menatap pak edi dengan tatapan heran sekaligus marah

 

“Apa maksud bapak???”

 

Pak edi hanya menghela nafas dan memegang pundak saya, sambil berbisik dia berkata

“Ada saksi yang mengatakan bahwa kamu dan seorang teman kamu adalah orang terakhir yang keluar dari gang ini, tepat sebelum polisi menemukan Pak Muhadi dan kawan-kawannya yang sudah sekarat”

 

Habis bilang gitu, pak edi pergi ninggalin saya soalnya salah seorang aparat memanggil

beliau

 

“Sialan!! Saya paling gak suka berurusan sama polisi”

 

Kemudian saya teringat sesuatu, sesuatu yang sejak dulu menarik rasa penasaran saya. Saya pun bergegas menuju sumur tua di belakang rumah pak jawi yang anehnya gak banyak aparat polisi di sekitar situ, mereka semua

terlalu fokus sama puing-puing rumah pak Jawi

 

Ada reruntuhan bangunan seperti kamar mandi di samping sumur, dan di sisi yang lainnya adalah reruntuhan kandang sapi yang sudah tidak terlihat ada satupun rumput hijau disana.

Hampir seluruh permukaan sumur ditutupi lumut.

Saya beranikan diri untuk melihat ke dalam sumur yang ternyata memang sudah tidak ada airnya. Sumur ini tidak begitu dalam, saya bisa melihat dengan jelas dasar sumurnya yang berupa tanah dan

Ada sisa-sisa rumput pakan sapi pak jawi tertata rapi di dasar sumur. Dan di salah satu

dinding sumur ada lubang kecil, yang cukup untuk dimasuki seorang anak kecil.

 

Untuk memastikannya, saya memutar arah yang tadinya di sebelah utara ke sebelah selatan sumur. Dan terlihat jelas, ada lubang di dinding dasar sumur bagian utara

“Sumur ini???? Ada apa sebenernya dengan sumur ini??”

 

Selesai dengan sumur saya pun berbalik arah ke rumah pak jawi, atau lebih tepatnya, reruntuhan rumah.

 

Hangus! Rata! Rumah yang saya khawatirkan akan runtuh karena hujan deras, ternyata harus rubuh karena kobaran api.

Sebelum ini saya selalu penasaran dengan isi rumah Pak Jawi, tapi setelah mendapat kesempatan untuk masuk kesana, entah kenapa saya merasa takut. Saya paksakan kaki saya untuk melangkah ke dalam rumah yang dindingnya sudah tinggal sepaha, dan apa yang saya lihat sungguh

tidak masuk akal.

 

TIDAK ADA SATUPUN TEMPAT TIDUR, LEMARI, ATAU PERABOTAN LAYAKNYA DI RUMAH BIASA

 

“Apa apaan ini??? Kemana semua barang-barang pak jawi??? Disita polisi kah???”

 

Saya masih gak bisa membayangkan, gimana bisa seseorang tua renta dengan enam anak tinggal di rumah

yang isinya hanya ruang kosong tak beralas.

 

Tidak!!! rumah ini tidak cuma sekedar kosong, saya bisa melihat ada tujuh buah kayu pasak tertancap di sekeliling ruangan. Ya!! kayu pasak yang biasa dipakai

 

UNTUK MENGIKAT SAPI, ATAU LEMBU.

 

“Sekarang kamu tahu kan

siapa pak Jawi sebenarnya? Setidaknya kejadian ini bisa menjawab rasa penasaran warga. Sungguh disayangkan, kalau pak jawi yang dikenal sebagai tabib, dan dihormati warga, harus meninggal tragis seperti ini”

 

Pak edi tiba-tiba muncul di belakang saya, dan memberikan

informasi yang tidak bisa saya percaya.

 

“Pak Jawi meninggal???”

 

Tanya saya seolah tidak percaya

 

“Ya, polisi menemukan mayatnya di dalam rumah ini. Mayat yang hangus itu, masih memegang obor. Jadi polisi sepakat bahwa pak jawi bakar diri dan rumahnya karena keenam anaknya

hilang usai melukai Pak Muhadi dan teman-temannya”

 

“Bullsh*t!!!!!!!!”

 

Seru saya dalam hati.

Tidak mungkin!! Seorang ayah yang tinggal sendirian dan sangat menyayangi keenam anaknya, tidak akan pernah bunuh diri beberapa jam setelah mati-matian menyelamatkan anak-anaknya.

Setidaknya itu yang ada dipikiran saya, seolah sangat mustahil bagi pak jawi untuk bunuh diri, terlebih harus membakar rumah satu-satunya.

 

“Sekarang kamu sudah melihat semuanya kan dek?, jadi kamu sudah tahu siapa dan seperti apa anak-anak Iblis itu. Jadi saya harap

kamu gak lagi sok-sok jadi pahlawan dengan mencari keberadaan mereka. Agar apa yang menimpa pak muhadi tidak terjadi ke adek juga”

 

Saya berbalik arah ke arah Pak Edi, dan menatap beliau dengan tatapan benci, sebenci-bencinya.

“Bapak bener!! Saya sudah melihat semuanya!! SEMUANYA!!! Dan benar kata bapak, saya sekarang tahu siapa pak jawi dan anak-anaknya. Pak Jawi adalah seorang ayah, dan keenam bocah yang bapak bilang iblis itu, mereka adalah Anaknya! Anak pak jawi!! Oh ya pak, ngomong-ngomong

soal manusia atau bukan, saya jadi penasaran sekarang SIAPA SEBENERNYA YANG BUKAN MANUSIA DI DESA INI??”

 

Well said Danil, Well Said!! Saya gak tahu kenapa saya terkesan membela anak pak jawi, seakan saya menaruh simpati karena salah satu anaknya yang dianiaya warga.

Simpati?? Benarkah??? Setelah semua yang saya dan erik lihat malam itu??

 

YA! MALAM ITU

 

Diiing!!!! Diiing!!!!!!!!! Dinggg!!!!

 

Bunyi lonceng memecah kesunyian yang sempat terjadi setelah kaki si Iyo mendarat di muka si gendut.

Bunyi lonceng yang terdengar seram dan menggema,

semakin nyaring, semakin nyaring!!!! Semakin terasa asal dari bunyi lonceng itu adalah belakang rumah pak Jawi, tempat dimana sumur itu berada.

 

Diantara kami berlima, hanya saya yang tahu bahwa selalu ada hal yang mengerikan jika lonceng itu dibunyikan dan ternyata

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

 

Si gendut berteriak keras sekali,

lebih keras dari teriakannya di waktu itu! Suara yang Cumiakkan telinga, yang bahkan menutupnya pun percuma. Badan saya bergoyang ke kanan dan ke kiri, bukan karena gempa, tapi karena kaki saya gemetar hebat hingga perlahan-lahan terasa lemas.

Belum cukup mencekamkah teriakan si gendut, sampai-sampai semua saudaranya tiba-tiba berlari keluar dari rumah, cepat sekali dan tentunya dengan teriakan yang sama seperti si gendut.

 

Semua terjadi begitu cepat, tidak banyak yang bisa dilihat apalagi diingat.

Selain si gendut yang mulai menggigit paha Si Iyo.

 

Mungkin kita sudah terbiasa melihat anak kecil menggigit, tapi tidak jika dia juga mengoyak dan merobek paha manusia.

 

Dan tentu saja, kelima saudaranya juga melakukan hal yang sama pada pak Muhadi

dan Temannya yang berbaju PNS itu.

 

“Aaaaaa,, aaaaa,,, aaaaaa”

 

Suara yang sangat rendah dan pelan sekali untuk sebuah jeritan dari mulut orang yang tubuhnya sedang dikoyak. Saya tidak bisa percaya apa yang saya lihat, mungkin Pak Muhadi dan teman-temannya merasakan takut

yang luar biasa, sehingga untuk teriak saja tidak bisa.

 

Saya tidak bisa lagi melihat wajah anak-anak pak jawi, karena darah menutupi mulut dan hidung mereka. Kecuali si tinggi yang ompong, dia hanya mencakar cakar wajah orang berbaju PNS itu, sementara si pincang yang berada

dipunggunya menggigit satu persatu ujung jari bapak itu, yang samar-samar kelihatan kalau kukunya mulai terlepas.

 

Jika ini adalah bentuk kemarahan mereka, lalu apa maksud teriakan mereka yang sekarang malah berubah jadi sebuah Tawa!!! Saya tidak lagi mendengar tangis sedih

seperti yang saya lihat pada si gendut, atau teriakan marah seperti yang saya lihat pada malam itu. Namun yang saat ini jelas sekali menggema, mengalun mengiringi tontonan mengerikan di depan saya adalah

 

Suara tawa bahagia anak-anak pak jawi. Suara yang sering saya dengar

ketika adik-adik sepupu saya bermain bersama temannya. Mereka menikmatinya, mereka menyukainya!! Mereka saling melihat satu sama lain dan saling bertukar mangsa.

 

Masih banyak kata yang harus saya deskripsikan agar orang lain bisa merasakan betapa mengerikannya pembantaian

yang mereka lakukan di tengah nyala obor dan gerimis hujan. Tapi….

 

“Dan”

 

Suara lirih Erik yang hampir saya lupa keberadaannya, dia masih belum beranjak dari tempatnya tersungkur, saya bisa melihat jelas ada muntah di depannya, mungkin rasa takut dan jijik sudah menari-nari

di lambung erik sampai dia muntah.

 

Tiba-tiba erik menunjuk sesuatu dengan tangan gemetarnya, sesuatu yang sebenernya ragu untuk saya lihat

 

“Daan, pak Jawi Dan”

 

Benarlah!!! Saat saya menoleh ke arah yang ditunjuk erik, arah yang sama dengan dimana teras pak jawi berada.

Disanalah Pak Jawi!!! Diatas terasnya, berdiri, diam, tidak bergerak sedikitpun. Dan karena jarak kami yang cukup jauh, kami hanya bisa melihat bibirnya yang komat-kamit dan sekilas terlihat sedang tersenyum. Entahlah yang jelas kami tahu adalah, Pak jawi tidak lagi bungkuk.

Seakan Sang Ayah menikmati melihat anak-anaknya bermain riang, dengan tubuh manusia yang tercabik dan penuh darah.

 

Saya menyuruh Erik membaca doa, doa apapun yang diajarkan Bapak atau ustadnya di sekolah. Tapi sementara saya membaca ayat kursi yang tidak selesai-selesai

karena tidak bisa mengingatnya, erik justru membaca doa makan karena mungkin tidak ada doa lain yang dia hafal.

 

Kami masih mencari celah, mencari waktu yang tepat untuk pergi dari nerakanya pak jawi ini. Dan tiba-tiba

 

“……………..HENING….....................”

“Apa??? Apa lagi sekarang???”

 

Tanya saya dalam hati, berharap tidak ada sesuatu yang lebih buruk dari anak kecil yang melumat-lumat daging manusia.

 

Dan ternyata, mereka berenam sudah berhenti bermain-main dengan tubuh Pak Muhadi CS.

Sama seperti pak Jawi yang juga berhenti komat-kamit.

 

Ini kabar baik buat mayat pak Muhadi CS, tapi kabar buruk buat kami karena sekarang mereka berenam mulai melihat ke arah saya dan erik.

 

Saya tampar muka si erik yang sedang memejamkan matanya sambil membaca syahadat, seolah-

olah siap mati. Sementara saya sendiri harus tetap tenang, dan juga menenangkan si erik

 

“Kita lari setelah ada aba-aba dari saya”

 

Anak-anak pak jawi masih tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya, sementara pak jawi. Kami tidak lagi melihat Pak jawi di teras rumahnya,

tidak dimanapun. Dan tiba-tiba si peot mulai angkat bicara

 

“Cacak……..” (Kakak)

 

Tanpa disuruh dua kali, saya langsung menarik erik menuju motor yang sudah siap meluncur di ujung pagar rumah pak jawi. Dan lagi-lagi Kampretnya motor ini tidak mau nyala berapa kalipun distarter,

sehingga saya harus starter sambil lari. Sempat saya menoleh ke arah anak-anak itu, mereka masih saja diam menghadap lurus ke depan seolah tidak lagi memperhatikan kami.

 

Belum selesai rasa takut saya, dari balik pagar, samar-samar saya melihat ada sesuatu di dekat sumur,

atau mungkin lebih tepatnya seseorang, seseorang yang tidak ada waktu bagi saya untuk berpikir

 

SIAPA DIA??

 

Setidaknya selagi saya dan erik masih berlari mendorong motor matic yang macet.

 

Jauh kiranya sampai di ujung gang, barulah saya sadar kalau standar motornya

belum dinaikin. Dan inilah awal dari kebencian saya terhadap motor matic.

 

Saya pun mengantarkan erik pulang, berkendara pelan melewati keramaian anak-anak yang baru keluar dari mushallah. Kami Cuma bengong, tidak ada sedikitpun ide untuk lapor ke polisi atau warga,

tidak ada satupun yang berbicara, Sampai akhirnya Erik buka suara

 

“Dan, aku ngelihat Dan”

 

“Ngelihat apa??”

 

Tanya saya penasaran, tapi saya tidak mau tahu jawabannya.

 

“Dari genangan air hujan, di tambah cahaya obor, Aku ngelihat punggung pak jawi”

“Bukan tuyul seperti yang Uci dan Adi bilang, tapi…… "

 

Lembu hitam yang besar banget

 

Akhir Dari Pra Insident

Bersambung ke Chapter 21

INSIDEN

 

Prolog

 

Bang!!!

 

Setelah mengantarkan Erik dan sampai di rumah, Saya pun tergesa-gesa menutup pintu, kemudian saya sempatkan untuk bersandar dibaliknya sambil menatap ruang tamu, hanya untuk meyakinkan saya bahwa saya sudah di rumah.

Silahkan cek like untuk thread yg lain ya

Ayo mana ini, sudah mau masuk cerita inti. Kok sepi

Ya! Saya sudah di rumah, tapi pikiran saya masih disana. Kejadian itu sepertinya tidak akan hilang dari ingatan saya dengan mudah, bahkan mungkin tidak akan hilang sama sekali. Apa yang pak jawi lakukan, apa yang anak-anaknya lakukan, siapa orang yang ada di sebelah sumur itu,

dan yang lebih mengganggu pikiran saya adalah

 

Pengakuan Erik yang melihat Pak Jawi menggendong Lembu Hitam yang sangat besar. Kata-kata lembu hitam sudah sering kali terngiang di pikiran saya sejak sugik juga mengaku melihat hal yang sama

 

Tapi bagaimana bisa,

pak jawi yang kurus seperti itu, menggendong Lembu yang katanya sangat besar. Cukup besar untuk membuat bagian depan motor sugik peot.

 

Anyway, setelah saya melepas sendal, jaket dan baju saya yang berlumuran lumpur. Saya pergi ke ruang tamu untuk menenangkan pikiran,

sampai akhirnya saya tertidur, pulas, berharap setelah bangun saya bisa melupakan semuanya.

Bersambung...

Source: @jokerhorror

 

Untuk baca thread lainnya di versi mobile,klik Penulis lalu pilih nama penulis atau klik older post di akhir setiap cerita untuk melihat cerita lainnya..

enjooyyy!!!


Keluarga Hantu di Ruko Batam

  Keluarga Hantu di Ruko Batam A Thread #memetwit   @InfoMemeTwit Oleh: Ghost Writer (Cerita nyata - cerita mistis) Sembilan belas tahun yan...

Pengikut

Pembaca Cerita Horror

Arsip Blog

Cari Blog Ini