Ini ialah narasi yang kami alami waktu lakukan pendakian ke Gunung Gede lewat jalan Gunung Putri pada tengah bulan Desember tahun kemarin. Gagasan pendakian ke Gunung Gede telah kami buat persiapan jauh hari dari mulai pembagian pekerjaan sampai manajemen waktu pendakian serta jumlahnya rombongan kami ada 14 orang, 12 lelaki serta 2 wanita.
Buat saya mendaki Gunung Gede bukan yang pertama. Tahun 2015 saya mendaki ke sana lewat jalan Cibodas. Tahun 2016 saya mendaki ke Gunung Pangrango lewat jalan Cibodas, serta di tahun 2017 ini saya barusan usai Trekking di jalan Cibodas bersama dengan Istri. Tetapi untuk mendaki lewat jalan Gunung Putri ialah pengalaman pertama buat saya.
Sesuai dengan gagasan kami setuju untuk pergi daro Bogor di hari Jumat jam 06:00 pagi, tetapi sebab beberapa jenis fakta pada akhirnya kami pergi jam 08:00. Kami terpecah jadi beberapa group sebab ada langsung ke Cibodas untuk mengatur SIMAKSI.
Seputar jam 10:00, rombongan kami bergabung semua di kantor TNGGP Cibodas terkecuali 2 orang wanita langsung berjumpa di Basecamp Gunung Putri sebab datang dari Cianjur. Bersama dengan rombongan kecil dari Jakarta, seputar jam 11:00 kami pergi dari Cibodas ke arah Gunung Putri dengan sewa 2 angkot.
Jam 12:00 kami datang di jalan Gunung Putri, sesuai dengan persetujuan kami ubah Shalat Jumat dengan Shalat Dzuhur di jalan pendakian supaya tidaklah sampai di Suryakencana malam serta menghindarkan hujan plus kabut tebal. Semua rombongan telah komplet saat kami melapor ke Basecamp Gunung Putri, serta mengawali perjalanan dengan langit yang mulai mendung.
Baru melalui kebun-kebun masyarakat hujan gerimis mulai turun, Tetapi tidak lama berhenti . Singkat kata dari Pos Pertama sampai Pos Simpang Maleber sepanjang di perjalanan tidak ada beberapa hal aneh terkecuali waktu di batas rimba serta kebun masyarakat, kami temukan sesaji dengan wangi kemenyan yang baru dibakar.Dengan tubuh yang telah begitu capek sebab jalan pendakian yang terus naik serta diguyur hujan, pada akhirnya saya serta beberapa rombongan istirahat di Simpang Maleber sekalian isi perut dengan camilan serta menanti beberapa rombongan yang ketinggalan. Saat itu hari telah mulai sore mendekati maghrib.
Saat sudah semua kembali kumpul di Simpang Maleber, ada seorang pedagang serta anaknya yang akan buka lapak di Suryakencana sempat istirahat sesaat, saat dia serta anaknya meneruskan kembali perjalanan, pedagang itu katakan "janganlah sampai kemaghriban di sini".
.
Tidak lama kami meneruskan kembali perjalanan ke Suryakencana yang tinggal sesaat . Tetapi waktu itu hari telah mulai gelap, kemungkinan telah maghrib. Pada akhirnya kami sampai di Pos Suryakencana. Satu-satu semua bergabung di batu besar tidak jauh waktu keluar dari jalan pendakian, terkecuali 2 orang yaitu Ivan serta Kang Irwan, menurut bang Andri Kang Irwan yang telah berusia kecapekan hingga istirahat dulu.
Cuaca mulai dingin, hari jadi gelap, serta kabut tebal turun tutupi alun-alun Suryakencana. Sekalian menanti Ivan serta Kang Irwan, 3 orang putuskan untuk menyusul untuk cari tempat buat kami berkemah.
Sesudah Ivan serta Kang Irwan sampai di Suryakencana. Kami semua bersama dengan rombongan Jakarta tadi seangkot dengan kami melanjutkan ke tempat kemah, yaitu di alun-alun samping Timur. Dengan bekal Headlamp serta HT untuk melakukan komunikasi dengan 3 orang yang lebih dulu ke tempat kemah, kami semua berjalan tembus tebalnya kabut malam itu.
Sampai di tempat kemah, kami langsung dirikan kemah, masak minuman dan makanan lantas istirahat. Paginya gagasan kami ke pucuk Gede harus tidak berhasil sebab hujan badai serta kabut tebal. Usai badai, kabut tebal serta angin tidak segera surut, hingga kami cuma foto-foto di alun-alun Suryakencana.
Jam 10:00 kami semua packing untuk kembali turun. Awalannya kami merencanakan memakai jalan pucuk Gede-Cibodas, sebab kabut masih tebal serta angin cukup kencang pada akhirnya kami semua putuskan untuk kembali memakai jalan Gunung Putri serta datang di basecamp seputar jam 14:00, diteruskan ke Cibodas untuk mengambil motor serta makan kemudian langsung pulang ke Bogor.
Sesampai di dalam rumah, semua sama-sama menghubungi serta share photo melalui group WA, tetapi selang beberapa waktu selanjutnya, salah satunya anggota rombongan, kang Noor, menanyakan melalui group WA. "Saat itu yang paling paling akhir siapa??", Saya jawab "Ivan serta Kang Irwan, mengapa memang kang?", Kang Noor tidak ingin menjawab. Sampai seringkali waktu seringkali saya singgung ada apakah sepanjang di jalan pendakian, tetapi kang Noor masih diam.
Pada akhirnya kang Noor berani menceritakan tempo hari, kira-kira 1,5 bulan sesudah pendakian. Ia katakan waktu di pendakian, sesudah dari Pos Simpang Maleber urutan ia paling depan serta lainnya di belakang sebab kang Noor lihat jelas siapapun juga saja yang ada dibelakangnya. Tetapi sesampai di Alun-alun Suryakencana, nyatanya semua yang ia lihat berada di belakangnya telah tiba di alun-alun lebih dulu.
Sayapun merasakan aneh, sebab sesudah dari Simpang Maleber, urutan kang Noor ada di muka saya, tetapi nyatanya berada di belakang. Langsung di group WA jadi bertanya-tanya "siapa figur yang seperti kami dibelakang kang Noor serta siapa figur kang Noor di muka saya setelah dari Simpang Maleber???" Sejauh ini masih misteri.
-Sekian-
Source : IG mountnesia
