PAMIT



 mungkin banyak dari kalian yg baca tulisan saya ini, familiar dengan fenomena Pamit, sebuah fenomena tentang kehilangan, yg mungkin pernah atau dirasakan oleh seseorang ketika Ia kehilangan sosok yg menurutnya sangat penting di dalam hidupnya. 

ada dua hal yg saya tahu tentang fenomena pamit di dalam adat budaya jawa, pamit janggeng dan pamit wilureng.

dari sini, kalian akan tahu, arti dari pamit yg saya maksudkan ini. hal inilah juga bakal dari cerita saya, pengalaman yg masih terlampau baru, sekitar tahun 2019. 
pertama dalah fenomena pamit janggeng yg menimpa orang terdekat saya.

sejujurnya saya masih merinding sih bila mendengar ceritanya, tapi saya akan coba tuliskan ceritanya sesingkat mungkin ya. 
sebut saja, orang terdekat saya dengan nama, Yuni.

Yuni, perempuan, usianya berkisar 20 tahunan, masih sibuk-sibuknya kuliah saat itu, suatu ketika, ditengah kesibukannya itu, Yuni mendapatkan kabar bila bu lek nya, bu Idris sedang jatuh sakit, Ia ingin Yuni datang menjenguknya 
sebenarnya Yuni sendiri bukan orang yg tidak sayang dengan keluarga namun saat itu Ia benar-benar sedang disibukkan dengan tugas-tugas kuliah sehingga di dalam hatinya Ia mengurungkan niat datang malam itu, Ia pikir besok mungkin waktu yg tepat karena kuliah senggang. 
tapi rupanya, Ia terlampau lupa. tak tahu kabar tentang bu leknya ini.

Ia benar-benar tak ingat dengan janji yang sudah ia buat sendiri dengan dirinya. suatu malam, entah kenapa Yuni merasakan firasat yg tidak enak, angin berhembus kencang namun sekelibat lewat. 
tak hanya itu, beberapa kali, Ia melihat kebelakang saat berjalan pulang menuju ke rumah, tak tahu kenapa seperti ada yg sedang memperhatikannya namun setiap kali di tengok, tak ada siapapun, hanya dirinya seorang diri. Yuni memutuskan berjalan lebih cepat,- 
-karena semakin lama, perasaan tidak sendirian itu bertambah semakin besar, menimbulkan rasa paranoid yg semakin menggila.

sesampainya dipintu rumah, Yuni seketika mengunci pintu, sembari mengawasi jendela, namun tetap saja, yuni tak melihat apapun di sana. 
saat itu, rumah dalam keadaan kosong, entah kenapa Abah dan Amah yg biasa duduk di ruang tengah menonton tv, tak terlihat batang hidungnya. mungkin di rumah saudara, pikir Yuni saat itu, jadi dia memutuskan untuk langsung masuk ke kamar, namun, sekelibat aroma wangi tercium. 
Yuni benar-benar bisa mencium aroma itu. firasatnya bertambah buruk setelah mencium wewangian itu, belum berhenti di situ, tiba-tiba tanpa ada peringatan lampu di dalam rumah tiba-tiba mati mendadak. Yuni seketika terkejut, namun, Ia berusaha untuk tidak panik dalam situasi itu, 
berbekal handphone di tangan, Ia menuju ke tempat di mana Abah biasa menyembunyikan lilin. hal yg mungkin akan disesali Yuni karena tidak memilih keluar saja dari rumah itu. 
setelah mendapatkan lilin yg Ia cari, Yuni menyalakannya di beberapa titik, sedang dia menuju ke kamar mandi, niat hati mencuci muka, dalam setitik cahaya lilin yg Yuni bawa, Ia membasuh wajah dengan air sembari menatap ke cermin di kamar mandi, pintu Ia biarkan terbuka. 
berharap semakin banyak cahaya yg mengelilinginya semakin tenanglah dia. namun, sekonyong-konyong tanpa sadar saat Yuni melihat ke cermin yg ada di depannya, di belakang, di lekuk batas tembok antara ruang tengah dan ruang tamu, terlihat wajah dibalut kafan dalam posisi mengintip 
Yuni yg melihat hal itu sontak menjerit, namun saat dia berbalik sosok itu tak ada, hilang begitu saja. Yuni menyentuh kepalanya, berpikir apakah yg baru saja dia lihat itu nyata ataukah hanya perasaannya saja yg dibalut ketakutan sendirian di dalam rumah. yuni hanya bisa diam. 
Yuni terus mengucap istighfar sembari berajalan menuju kamar, sesampainya di kamar. Ia haturkan sholat, Ia berharap bisa menenangkan diri. saat itu pintu kamar dalam kondisi tertutup sebelum terbuka dengan sendirinya, membuat Yuni bisa melihat ruang tengah dari sudut matanya. 
entah ini benar atau tidak, Yuni melihat sosok pendek merangkak lewat bolak-balik, seperti sengaja menggoda Yuni, Ia tak kuat namun Yuni tak mau membatalkan sholatnya sehingga Yuni akhirnya memilih memejamkan mata sembari mulai merintih menahan tangis yg benar-benar sudah diujung 
bahkan untuk salam saja Yuni masih dalam kondisi memejamkan mata, setelahnya, Ia melompat keatas dipan, menutup diri dengan selimut, berharap semua gangguan ini berakhir. namun, sepertinya semua tak seperti yg Yuni harapkan, belum satu menit, Ia mendengar suara wanita menangis. 
suara menangis itu awalnya pelan-pelan-namun, semakin lama semakin jelas, diikuti dengan memanggil nama Yuni berkali-kali, Yuni tentu saja gemetar, mulutnya mulai membaca ayat kursi seperti yg biasa dia lakukan saat dalam tekanan, tapi suara itu tak mau hilang, bahkan suara- 
itu terdengar seperti tepat berada di sampingnya.

Yuni tak sanggup, Ia beranikan diri untuk melihat langsung, tentu masih dibarengi dengan doa-doa yang Ia tahu dan hafal di luar kepala. 
setelahnya dia lihat disamping tempatnya berbaring, sayangnya, Yuni tak melihat apapun, begitu pun dengan suara itu, lenyap semua. Yuni memberanikan diri untuk turun dari Dipan, entah kenapa ada dorongan rasa penasaran, pintu kamar dalam kondisi terbuka saat baru saja- 
Yuni menginjakkan kaki di lantai, saat itu lah Ia merasa menginjak sesuatu, seperti tekstur kain yg lembut, Yuni menunduk memperhatikan apa yg ada di bawahnya dari sedikit cahaya lilin yg ada di sekitar, Yuni terperanjat, Ia tak bisa bergerak, benar-benar seperti tersirep, 
tepat di bawah kakinya, ada sosok Pocong yg wajahnya hitam terbakar sedang melihat kearah Yuni. tak seperti kebanyakan pocong, pocong yg Yuni lihat memiliki tangan yg sama hancurnya dengan wajahnya, sedang merangkak hanya saja, tak ada bagian kaki pada sosok pocong tersebut. 
Sosok itu lah yg rupanya sedari tadi menangis dan memanggil-manggil nama Yuni berkali-kali, Yuni yg tidak pernah melihat hal seperti ini, hanya sebentar diam memandanginya, sebelum, jatuh pingsan di dalam kamar. 
selang waktu, Abah dan Amah membangunkan Yuni, mereka terkejut kenapa anaknya tidur di atas lantai, Yuni masih merasa takut, Ia ingin menceritakan semua namun belum Yuni bercerita, Abah sudah memotong pembicaraan, menyampaikan kalau bu lek meninggal, esok pagi beliau baru- 
disemayamkan.

Yuni hanya diam, Ia lupakan semua yg Ia lihat, sedang di dalam kepalanya kini muncul bayangan tentang bu lek, Yuni tersirep diam, ingat, bila Ia belum sempat menemui beliau semasa hidup, belum menuntaskan janjinya kepada beliau. 
malam itu juga Yuni minta diantar, Ia ingin melihat bu lek sebelum benar-benar disemayamkan dalam tanah kubur, entah kenapa, di dalam kepalanya, Ia terus merasa bahwa sosok pocong yg Ia lihat menyerupai sosok bu lek nya. 
benar saja. saat di rumah duka, di dalam kamar yg tak terlalu besar, bu lek terbaring tak bernyawa, tertutup kain kafan, Yuni hanya bisa menangis di hadapan bu leknya yg sudah tidak mungkin berinteraksi dengan dirinya, saat itulah Yuni baru mengetahui bila sudah lama- 
bu lek mengidap sakit, dan kedua kakinya juga akhirnya diamputasi karena penyakit yg pasti kalian semua tahu, (gula)

malam itu, Yuni meminta maaf terus menerus kepada bulek, mungkin kedatangan beliau ingin berpamitan kepada salah satu keponakan yg paling dia sayangi, terlebih- 
rasa rindu itu tak lagi bisa dibayar karena kematian datang lebih dahulu menjemput dirinya, dengan wujud yg mengerikan itu juga mungkin bulek ingin menghukum Yuni agar senantiasa kelak tak lagi mengingkari janji yg sudah dia buat, karena manusia hidup yg dipegang adalah janjinya. 
Source: Simpleman

Keluarga Hantu di Ruko Batam

  Keluarga Hantu di Ruko Batam A Thread #memetwit   @InfoMemeTwit Oleh: Ghost Writer (Cerita nyata - cerita mistis) Sembilan belas tahun yan...

Pengikut

Pembaca Cerita Horror

Arsip Blog

Cari Blog Ini