Jangan Pernah Mencari TITIR !

 


Ada orang yang pernah berkata, sedikit yang diketahui, akan menjadi bagus ...karena terkadang, terlalu banyak kita tahu, semakin banyak juga sesuatu yang datang ke kita, entah itu baik...atau itu malah bisa membahayakan.

So, Cerita ini berdasarkan kisah nyata, salah satu urband legend di daerahku, bersamaan dengan cerita Pring mentelung dan juga Glundung Pringis...

Untuk percaya tidak percaya, semua saya kembalikan ke diri pembaca masing masing...

Time for Ocheng to tell the stories... 
Siang itu, matahari masih tertutup awan, yah karena pada saat itu musim penghujan, hingga hampir setiap hari hanya ada dua kata, Mendung dan Hujan. Kejadian ini berada di desa S________ dimana saat itu ketika musim hujan datang, warga pun mengurangi aktivitas mereka khususnya - 
Pada malam hari. Karena selain dingin, jalan pada saat itu masih terbuat dari lapisan tanah dan bebatuan, apalagi penerangan tidak seperti sekarang.

Zrrrrsshhhhhhh.......!!

Suara hujan yang deras malam itu mengguyur Desa S yang saat itu sedang terlelap dalam gelapnya malam. 
Listi salah seorang gadis di desa itu sedang berada di ruang tamu ditemani dengan cahaya dari petromax sedang bercengkrama dengan Ibu dan ayahnya.

"Wes mangan nduk?" (sudah makan nduk?) tanya ibunya

"Sampun buk, wau" (sudah bu tadi...) jawab Listi yang sepertinya sedang- 
Ingin meminta ijin tetapi ada hal yang membuat ia menahannya

"Ada apa? Kok bapak lihat kamu gusar gini?" tanya bapak listi penasaran

"Mmm...sebenarnya ...." ucap Listi terhenti

"Pasti kamu mau ijin buat besok menginap di rumah Ranti to?" tanya ibunya dengan nada agak meninggi 
"Gak bisa, kalo mau biar Ranti yang menginap disini.." tambah ibunya yang kemudian ke belakang yang tak tau mau mengambil apa

Listi hanya tertunduk diam, menahan segala emosinya..dan lebih memilih bersabar...

"Turutin ibukmu saja nduk, biar Ranti kesini saja" kata bapak pelan 
"Tapi Ranti sering kesini pak, saya yang gapernah nginap dirumahnya..." bantah Listi

"Tapi lihat ibukmu coba...dia cuma gamau ....hmm ah sudahlah , pokoknya kalo mau biar Ranti saja yang kesini" ucap Bapak lasti yang membuat lasti teringat akan kejadian - 
Dimana lasti beradu mulut dengan ibunya, dan ibunya berteriak mengenai kejadian naas yang dialami mendiang kakak Lasti...

"......" lasti pun tak menjawab apapun dan langsung pergi menuju ke kamarnya, kamar yang pintu hanya dari gordeng dengan ranjang kayu serta kasur yang ber- 
Asal dari kapuk itu.

"Ah nyamuknya banyak banget" batinnya kesal kemudian menutup slambu putih tipis yang tergantung di ranjang kamarnya itu.

Matanya belum ngantuk, karena rasa kesal terhadap kedua orang tuanya yang seakan tidak mempercayai Listi soal menjaga diri sendiri. 
Listi pun berniat untuk pergi diam diam, tapi bukan malam itu, melainkan beberapa hari kedepan, menunggu jika cuaca sudah baik baik saja.

Malam ditemani derasnya hujan pun berganti dengan pagi yang masih diselimuti awan abu abu. Seperti kebanyakan remaja disana, Listi membantu 
Ibunya di ladang, sedangkan ayahnya sedang mencari makan untuk ternaknya.

Listi berjalan menyusuri jalan yang saat itu sangat becek, hingga beberapa kali Listi harus terpleset di jalanan itu, ibunya seperti acuh terhadap Listi.

"Buk...tungguin " ucap Listi

"Hmmmmm... 
Ayo sini" jawab ibunya sambil menghentikan langkahnya dan menunggu listi yang berada dibelakangnya

"Mending aku dirumah aja buk" jawab Listi yang membuat mimik ekspresi wajah ibu nya sedikit berubah

"...diemplok demit we ngko!..." (dimakan setan kamu nanti!) kata ibu listi 
Yang membuat Listi tiba tiba menatap dengan perasaan takut.

Mereka pun kemudian menuju ke ladang, dimana di sekitar situ sudah ada beberapa warga dan anak anak yang lain sedang mencari bekicot (siput) untuk dimasak.

"Hooi Man!!" teriak Listi mengarah ke seseorang bocah se- 
Umurannya memakai baju biru lusuh dengan celana pendek serta memakai caping coklat yang terbuat dari anyaman.

"Eh..listi...sama bu lek?" tanya Toiman sambil terus memunguti siput yang berada disekitaran ladang itu

"Iya nih man, itu dia sedang disana...gatau ngapain aku cuma 
Bantu bantu aja tapi cape juga"

"Hahahaha....mending cari bekicot sini, nanti ku masakin..ajak ranti juga" ucap Toiman yang kemudian membuka capingnya

"Walah...omongo lek seneng Ranti..." (walah, bilang aja kalau suka ranti) ledek Listi

"Hahaha..usaha ti..siapa tau" jawabnya 
Akhirnya mereka berdua mencari siput dan mereka taruh kedalam karung putih yang dibawa oleh Toiman.

"Eh ti, kamu tau gak soal Titir?" tanya Toiman tiba tiba

"Titir? Kalo ada maling biasanya dibunyikan kan ya?" jawab Listi ragu ragu

"Iya sih, tapi bukan itu...Titir yang aku - 
Maksud itu kaya suara suara aneh yang muncul saat hujan deras di desa kita sini" ucap Toiman pelan

"Hah??? Gapernah denger aku" jawab Listi

"Lah? Serius? Berarti kamu spesial dong hahahaha" ledek toiman

Listi tidak menjawab ,tetapi yang muncul rasa penasaran, apa yang Toiman - 
Katakan itu apakah benar, mungkin itu yang ada di benak Listi saat itu...

"Titir iku opo man?" tanya Listi penasaran
"Titir yang aku maksud itu fenomena ghaib di desa ini...katanya semua orang pernah dengar...kalo aku jujur dengar semalem , gak hanya aku, tapi seluruh keluargaku 
"Bunyinya gimana man?" tanya Listi penasaran

"Nanti lah kuceritakan, ga enak cerita disini, lagian kicotnya dah dapet banyak nih ..hohoho..nanti masak dimana nih?"

"Masak dirumahku aja gimana?" ajak Listi

"Bu lek galak, aku takut" jawab Toiman

"Ah nggak kok, ibuk baik" 
-rehat sejenak...saya mau makan, merinding btw mo nulis lanjutannya...astaga....- 
"Iyowes , nanti dimasak di rumahmu...tapi bilango ibukmu dulu"

"Iyo nanti langsung ke rumahku aja, Ranti tak ajak e " ucap Listi kemudian pergi ke arah ibunya, sementara Toiman sibuk dengan karungnya yang berisi bekicot itu.

"Buk, aku pulang duluan gapapa?" tanya Listi 
"Golek molo po pie?!" (cari masalah apa gimana?!) ucap Ibu Listi dengan nada meninggi

"Aku mau masak bekicot sama Ranti sama Toiman buk"

"Masak yo masak, tapi pulangnya sama ibuk, bentar lagi juga udah selesai ini" ucapnya sambil mengambil peralatannya dan membersihkannya 
"Emang kalo bersihin sampe segitunya buk?" tanya Listi yang melihat Parang yang ibunya bawa ditusukan ke pelepah pisang hingga tembus sampai ke bagian belakang pelepah tersebut.

"Lha mau gimana lagi?" tanya ibu Listi kemudian mencabut parang itu

"Pantesan anak anak takut" 
Batin listi kemudian membantu membawakan barang barang ibunya.

Kemudian mereka berdua pun pulang menuju ke rumah, sedangkan Toidi sudah tidak ada ditempat dimana ia tadi mencari bekicot.

"Wes ,cepetan cuci kaki ,dan tangan" ucap ibunya yang melihat kaki dan tangan Listi 
Penuh dengan lumpur dari ladang dan jalan.

Listi pun pergi ke kamar mandi yang terletak dibelakang rumah dan tempatnya terpisah.

"Dek...."

Terdengar suara yang jelas, amat sangat jelas hingga membuat Listi menoleh ke sumber suara.

"Nggih mas?..saya?" tanya Listi melihat 
Pria yang sepertinya sudah tua dari dia, dengan memakai baju beradat jawa kuno lengkap dengan blangkon hitamnya.

Pria itu hanya tersenyum kemudian mengangkat tangannya dan melambaikannya seolah sedang mengajak Listi mendekat kepadanya.

"......" listi diam dan memandang pria 
Itu

"Kok lama banget nduk!" teriak ibunya dari dalam rumah beratap joglo itu

"Iya buk, sebentar" jawab Listi kemudian melihat ke arah Pria itu, dia masih tersenyum hingga menutup matanya. Dengan wajah tersenyum, pria itu memalingkan badannya dan pergi menuju ke dalam 
Pepohonan rimbun yang ada di belakang rumah Listi.

"Siapa orang itu..." batin Listi sambil melihat langkah kaki pria itu yang menapak dengan mantap diatas tanah yang sedang dipijaknya.

"Le, riniiooo (le, kesini)..." ucap seseorang dari arah kanan dari pria itu, sekejap 
Pria itu menoleh ke arah suara itu dan menuju kesana. Listi pun masih memperhatikan gerak gerik pria asing itu...hingga matanya tertuju pada seseorang yang sudah hampir dikatakan tua dengan janggut putihnya sedang merangkul Pria tadi.

"Ohh putune ..?" batin Listi sambil mencuci 
Kaki dan tangannya di depan kamar mandi yang ada pancuran yang terbuat dari bambu hijau.

Setelah dirasa semua sudah bersih, listi pun kembali ke rumah.

"Kok lama?!" tanya ibunya yang sedang menggoreng ikan di tungku dapurnya

"Biar bersih buk" jawab Listi kemudian pergi 
Ke kendi yang terbuat dari tanah liat dan menuangkan air putih dari dalam kendi tersebut

"Haaaaah segeeerrr....dingin kaya es teh yang pernah di belikan budhe"ucapnya

"Sudah dingin? Ibu ambilkan segelas" ucap ibunya kemudian Listi pun mengambilkan air di gelas dengan 
Ukiran bunga bunga.

"Temenmu datang kapan?"

"Ndak tau buk, oh iya aku tadi mau ngajak ranti loh buk, lupa...aku kesana apa boleh?"

"Nunggu toiman datang saja, habis itu biar toiman yang manggil Ranti" jawab Ibunya kemudian membetulkan posisi kayu bakarnya

"Haaah...." keluh- 
Listi yang kemudian pergi ke ruang tamu dan duduk di kursi panjanv yang terbuat dari kayu jati

Tak lama kemudian , Toiman datang ke rumah Listi membawa bekicot 2 rantang yang sudah siap untuk digoreng.

"Listi...." sapanya dari depan rumah, kemudian Listi pun membuka kunci dari 
Kayu diatas pintu dan membuka pintunya

"Sini man, Ranti mana?" tanya Listi

"Lah bukannya kamu yang ngajak?"

"Aku gaboleh kemana mana sama ibuk...hah..." ucap Listi kesal

"Hahahaha...yaudah yaudah biar aku yang ke rumah Ranti...nih bawa"

"Iya iya" sambil mengambil rantang 
Dari Toiman, kemudian toiman pun pergi untuk menyusul Ranti. Listi pun menuju dapur.

"Buk...." ucap Listi terhenti tatkala melihat ibunya sedang diam menghadap tungku api kemudian menoleh dengan mengusap air yang jatuh dari matanya

"Oh mana toiman?" tanya ibunya 
"Masih ma..mangil Ranti" jawab Listi terbata bata

"Sampeyan gapapa a buk?" tanya Listi sambil mendekati ibunya

"Ah gapapa, ini kena abu , jadi pedes" jawabnya yang terkesan menyembunyikan sesuatu.

Listi pun tak berani bertanya lebih jauh, dan langsung mengambil ulekan dan - 
Bumbu dari meja kayu di bawah kolong kursi

"Wah dapatnya banyak juga toiman" kata ibu Listi

"Dia hebat buk"

"Hahaha, kalo masmu masih ada ,dia lebih hebat dari toiman" ucapnya kemudian ibu listi menghela nafas dan menghembuskan panjang

"Mmmh...i..iya bu" jawab listi yang 
Sebenarnya ia tak tau bagaimana rupa kakak yang selalu ibunya ceritakan..dan jika marah dengan listi, selalu menjadi pembanding.

Yang listi tahu adalah kakaknya bernama Juono, dan meninggal karena tenggelam di sungai dekat dengan desa yang listi tinggali.

"Bapak belum pulang?" 
Tanya Listi bermaksud mencairkan suasana yang tiba tiba aneh itu

"Ah bapakmu mungkin nanti jam 5 an baru pulang...cari rumput sama teman temannya" jawab Ibu Listi sambil mengulek bumbu untuk memasak bekicot.

Singkat cerita mereka bercengkrama sekaligus saling membantu mem- 
Buat bumbu untuk memasak bekicot dari Toiman. Beberapa belas menit kemudian Toiman pun datang, dan bersama Ranti, gadis dengan rambut dikepang dua dan memakai kebaya warna putih.

"Halo bulek, halo lIsti" sapa Toiman

"Eh sini sini..yowes ibuk ke kamar dulu ya, kalian lanjutin" 
Ucap ibu Listi kemudian meninggalkan mereka bertiga di dapur

"Listi..aku bantu ya?" tawar Ranti yang kemudian duduk di dekat Listi

Listi pun mengangguk sambil melemparkan senyum manis kearah Listi

"Wahh baunya enak nih" celetuk Toiman

"Bawa Ranti kesini tadi agak susah" 
Imbuhnya

"Kenapa?" tanya Listi

"Iya tadi ibuknya kek takut, ranti aku bawa hahahaha...emang aku garangan!" jawab Toiman

"Hihihihi...ibuku tadi cuma godain kamu man" sahut Ranti

Mereka bertiga pun saling membantu untuk memasak, tertawa, cerita apapun yang membuat mereka 
Semakin akrab.

"Eh man, katamu titir itu apa?" tanya Listi penasaran

"Oh ituuu...." jawab Toiman

"Titir, biasanya bunyi kentongan berulang ulang dan cepat, untuk memberi tahu warga desa adanya bahaya" sahut Ranti 
"Kata Ranti bener, tapi Titir yang aku maksud adalah suara suara aneh yang muncul saat Hujan deras, khususnya di desa ini..." jawab Toiman

Ranti dan Listi terdiam sejenak , berfikir dan kemudian Ranti seakan terkejut

"Oh! Seperti kata ibukku ya? Yang katanya ada suara suara 
Gamelan, suara seperti anak anak sedang main disungai, wanita teriak, tertawa dan pokoknya ramai banget"

Toiman pun mengangguk setuju dengan apa yang Ranti katakan

"Hah? Aku gapernah dengar selama hidup disini" kata Listi

"Aku juga belum" jawab Ranti

"Iyaa, tapi ada masa 
Nanti kalian juga denger.. Mungkin malem ini kalau hujan deras"

"Tapi pamali kalau kita kepo terus nyari sumber suara, katanya ketika di hampiri, suara suara itu akan berpindah pindah....ngeri gak sih?" imbuh Toiman

"Hah...masa sih?" Listi seakan tak percaya dengan omongan 
Toiman

"Beneran...." jawab Toiman

"Ya kalo dipikir pikir ada masuk akalnya juga ya, desa kita ini udah semacam desa terpencil, walau ada jalan masuk dan keluar jumlahnya 4 jalur" sahut Ranti

"Iya, lewatnya ngeri ngeri juga....sisi kidul (selatan) ngelewati jembatan 
Yang banyakk banget pohon bambunya, timur ngelewati hutan jati yang panjang banget, lewat utara sumber air yang itu ada uler putih, kalau lewat barat......." ucap Toiman sambil berfikir

"Kuburan kan...?" ucap Listi yang disusul dengan anggukan kepala Toiman dan juga Ranti 
"Pantes desa kita ini serem banget, apalagi kalau musim penghujan gini" kata Ranti

Kemudian mereka pun menyelesaikan tugas pertamanya yaitu memasak bekicot, selanjutnya mereka bawa di ruang tamu sambil menggelar tikar , mereka makan bersama di ruangan itu. 
"Wes suwe le? Nduk?" (sudah lama le? Nduk?) tanya seseorang dari belakang , serentak mereka bertiga menoleh ke arah sumber suara itu

"Oh iya pak, sudah daritadi" jawab Ranti kemudian menghampiri Ayah Listi dan salaman dengannya

"Iya pak lek, masak bekicot juga" sahut Toiman 
"Wiih enak nih...lanjutin makannya" ucap ayah Listi kemudian masuk ke kamar yang hanya tertutup gordeng

Mereka bertiga pun melanjutkan makan bekicot, nasi tiwul dan juga sambal bawang.

Singkat cerita mereka pun sudah menyelesaikan makan makannya dan langsung membersihkan 
Peralatan makannya di dapur.

"Eh kalian nanti mau kemana setelah ini?" tanya Listi

"Aku mau pulang Ti, lagian udah mulai mendung juga dan udah jam 4an ini kayaknya" jawab toiman sambil menaruh piring dan alat alat yang sudsh dicuci Listi dan Ranti

"Aku juga mau pulang" jawab 
Ranti singkat

"Sepertinya nanti bakal hujan deras juga....alamat jalanan banjir terus beceknya aduhhh" imbuhnya

"Wah ya seru dong , diatas kan ada rumahnya pak Warno, yang punya pertenakan lele sama mujair, kalo hujan deres pasti banyak yang lepas ikannya"
Celetuk Toiman 
"Terus???" tanya Listi dan Ranti bareng

"Yaaa pasti ikannya di kalenan(parit) kan nahh waktu yang tepat untuk menangkapnya" jawab toiman sambik tersenyum puas

"Yaudah ayo ranti kita pulang" ajak Toiman

"Ayo, yaudah listi, kami pamit dulu, terimakasih makanannya" ucap Ranti 
Kemudian mereka berdua pun pergi, Listi yang sebenarnya saat itu ada rencana untuk ikut Ranti ke rumahnya secara diam diam mendadak diurungkan, mengingat kejadian tadi dimana ibunya seperti sedang menangis.

Listi pun masuk dan menutup pintu depan. Kemudian Listi menuju ke dapur 
Melanjutkan membereskan sisa sisa bumbu bumbu yang ia buat masak tadi.

Tidak berselang lama Hujan deras pin mengguyur, langit yanh tadi abu abu sekaranh menjadi gelap, bahkan tidak ada bedanya antara sore dengan setelah maghrib....semua terasa sama, ditambah beberapa kali 
Terlihat kilatan petir dan terdengar suara gemuruh air yang mulai memenuhi sungai kecil di dekat rumah Listi.

Hujan petir masih awet hingga beberapa jam kemudian.

"Hah hujan teruss" keluh Listi yang duduk di kursi kayu panjang dengan lampu petromax yang menggantung di kolom 
Kayu rumahnya.

"Hah...yaa ini berkah namanya Listi" ucap ayah listi yang kemudian mengambil sesuatu dari lemari

"Radio pak?" tanya Listi

"Iya" jawab ayahnya yang kemudian memasang battery dan menghidupkan radionya

"Ini sampeyan beli di bu Ratmi yang kerja di kota itu kan?" 
Tanya ibu listi

"Iya bune, ternyata masih awet hehehe" jawab ayah listi sambil memutar tombol pencari sinyal

"Dan harus ditukar sama panen jagung kita kemaren pak?" kata Ibu Listi dengan nada agak kecewa

"Ya gapapa to bune, wong hiburan kita ya cuma ini" jawab Ayah Listi 
Terdengar suara siaran radio, meskipun saat itu suaranya tidak jernih tapi memberi kesan sempurna ketika berada di bawah derasnya hujan, ditemani suara gamelan dari radio dan kopi serta ubi goreng yang Ibu Listi buat tentunya.

Malam pun semakin larut, hujan pun mulai mereda- 
Listi pun berpamitan pada orang tuanya untuk tidur duluan, dan Orangtuanya mengangguk. Listi pun segera menuju ke kamarnya.

Ia merebahkan badannya, melihat langit langit rumahnya dan kemudian mengambil selimut loreng kemudian ia pakai...matanya semakin berat dan semakin berat 
Hingga ia tertidur dengan lelap.

"Heh listi....." suara itu membuyarkan rasa kantuk listi, sekejap Listi terbangun dan ternyata sudah ada Ranti di depan ranjangnya.

"Lah ini dah malem...kenapa bisa disini?"

"Malem? Udah pagi...ayo kita keluar main di teras ,ada Toiman juga" 
Kemudian Listi pun beranjak dari tempat tidurnya tanpa merapikannya dulu. Ia melihat ayah dan ibunya berada di dapur sedang memasak, sedangkah ayahnya sedang mempersiapkan alat untuk pergi ke ladang lagi.

"Nah tuh ...dah yok main di terasmu..." ajak Ranti , listi pun 
Mengiyakan ajakan tersebut, mereka bertiga bermain membuat benda dari bahan tanah lempung.

"Wiih kok cerah pagi ini ya?" tanya Listi sambil melihat ke arah langit yang berwarna biru cerah

"Iya kemarin habis hujan kan?" jawab Ranti

"Biasanya juga ga gitu....eh Toiman kok diam?" 
Sesaat setelah listi bertanya seperti itu, seakan semuanya senyap, tidak ada suara apapun, bahkan suara cuitan burung pun hilang.

Listi semakin penasaran, ia lantas menoleh ke arah Ranti yang berada disampingnya, tapi ia tidak menemukan apa apa disana selain tanah lempung 
Yang ia buat, kemudian Listi menoleh ke arah Toiman yang tepat ada didepannya. Toiman hanya bisa terdiam menunduk

"Ranti mana man?" tanya Listi kaget

"......."

Betapa kagetnya Listi ketika melihat Tubuh Toiman yang tiba tiba jadi kotor terkena lumpur dan air 
Toiman menjadi basah kuyup, bahkan listi tak tau darimana semua itu berasal.

Toiman tiba tiba menghadap ke arah Listi dengan tatapan penuh ketakutan sambil menggigil.

"TULUNGONO AKU LISTI!!!!!!!" (tolong aku listi!!) teriak Toiman yang kemudian Toiman seperti tertarik ke- 
Belakang oleh semacam akar yang melilit tubuhnya.

Listi pun sontak kaget dan mencoba mengejar Toiman, akan tetapi usahanya sia sia, Toiman hilang begitu saja seperti sihir.

Listi pun semakin bingung, hingga ia merasakan ada tangan yang merangkul bahunya dari belakang. 
Sontak Listi pun menoleh ke pemilik tangan itu. Listi berbalik badan dan mencoba melepaskan dari rangkulan itu.

"Arep nandi cah ayu?" (mau kemana anak cantik) suara itu terasa berkeliling di kepala Listi, listi pun dengan sekuat tenaga melepaskan rangkulan itu dan berhasil. 
Betapa terkejut dan takutnya listi ketika melihat potongan tangan yang merangkulnya tanpa adanya anggota tubuh yang lain, tangan itu bergerak perlahan ke arah Listi.

"KYAAAAAAAAAA....!!!!" Teriak Listi kemudian ia berlari menuju dapur akan tetapi tidak ada satu orang pun disana 
Tangan itu sekarang bergerak mencengkram tembok kayu dan kolom kayu, melompat kesana kemari. Listi pun semakin ketakutan dan berlari keluar rumah menuju jalan, siapa tau ada orang yang lewat dan menolongnya.

Listi pun menangis dan melewati jalan berlumpur itu, bahkan tak t 
Terhitung lagi ia jatuh terpleset di kubangan jalan lumpur itu.

Akan tetapi ia tak menemui siapapun, bahkan tidak ada hewan sama sekali. Listi melihat ke belakang , potongan tangan itu masih mengejar bergelantungan di antara dahan pohon pohon.

Listi pun berlari sekencang 
Kencangnya sambil berteriak. Hingga ia bertemu dengan seseorang yang berdiri tepat ditengah tengah jembatan kecil. Orang itu adalah orang yang sama dengan yang listi temui tempo hari.

Orang itu berjalan dengan pelan dan luwes menuju ke arah Listi. Kemudian ia memegang pundak 
Listi dan disungkurkannya listi ke bawah ,saking kuatnya tekanan itu hingga listi terjatuh diantara lumpur lumpur itu.

"To...tooolonnggg" ucap Listi ketakutan tatkala lumpur lumpur yang berada dibawah tubuhnya itu seakan menariknya ke dalam tanah dan menelan listi perlahan. 
Pria itu tersenyum lebar, listi hanya bisa menangis dan pasrah dengan hidupnya.

"Heh bangun nak...!!! Bangunn!!!"

Listi dalam keadaan gelap mendengar suara jelas itu, samar samar matanya terbuka dan melihat ayah dan ibunya di kamar.

"Ada apa pak ? Buk?" tanya Listi heran 
"Ada apa gimana? Kamu nglindur, sampai kamu nangis teriak teriak gajelas terus kamu seperti orang lari" terang ayah listi

Listi pun bangun dan duduk, rasa capek yang luar biasa listi dapatkan terlihat dari keringatnya dan nafasnya yang terengah engah.

"Kamu mimpi apa?" 
Tanya ibu Listi khawatir

Listi pun langsung memeluk ibunya dan kemudian menceritakan mimpinya, tapi tidak semua...yang ia ceritakan adalah soal ia dikejar kejar potongan tangan yang melompat lompat.

"Itu cuma bunga tidur saja nak, sudah tidur kembali" ayah listi mencoba me 
nenangkannya

Listi pun mulai mengatur tangisnya yang tadi sempat pecah, ia masih ketakutan, sehingga ibunya menemani Listi tidur malam ini, sementara ayahnya pindah di kursi ruang tamu.

Malam pun berganti dengan suara kokok ayam yang menandakan pagi hari sudah menghampiri. 
Udara yang sangat sejuk, semilir angin yang menggerakan pohon dan daun daun, ditemani suara aliran air dari selokan di depan halaman rumah Listi.

Ia menengok ke arah langit, ia bersyukur karena langit masih redup sehingga apa yang ia mimpikan hanya sebatas mimpi dan bukan- 
Pertanda apa apa.

Listi pun memulai aktifitas hariannya dan selalu ditemani sang Ibu, sedangkan ayahnya pergi mencari rumput.

Hari seperti biasa berlalu begitu cepat, tak ada yang istimewa saat itu sampai ada suara ketokan pintu yang berasal dari pintu depan, ibu Listi tak 
Membuka, ia langsung melewati pintu dapur yang langsunh bisa menuju teras yang panjang itu.

"Onok opo sri?"(ada apa sri?) tanya Ibu Listi dari pintu dapur yang langsung menuju teras itu

Sri dengan tergesa gesa menghampiri ibu Listi

"Ngerti Toiman? Terakhir pamit katanya mau 
Mencari ikan di selokan depan rumahmu sampai detik ini belum pulang" katanya Gusar

Listi pun mendengar dan sekejap langsung mendekat ke dua orang itu.

"Wah terakhir aku tau sedang masak di rumah sini, terus gatau gimana....nduuukk" ucap ibu listi

Kemudian listi pun men 
Ceritakan tentang kronologi Toiman dan Ranti main kerumah hingga perkiraan jam mereka pulang ke rumah.

"....gitu ceritanya bu, sampai saat ini aku juga belum melihat nya" terang Listi

"Aku juga sudah tanya ke Ranti, katanya terakhir ketemu waktu Toiman mengantarnya" kata Sri 
"Bocah sembrono! Dia bilang mau cari ikan sama iwan, iwan sudah kutanyai katanya gaada yang ngajak semalem, berarti kan ngapusi(bohong)...." tambah Sri dengan suara yang melemah

"Yasudah buk, terimakasih..monggo"

Kemudian sri pun pergi berlalu meninggalkan Listi dan Ibunya 
"Bocah iku ancen sembrono..." (anak itu emang sembrono) ucap Ibu Listi yanh tiba tiba membuat Listi teringat akan mimpinya semalam

"Opo gara gara golek i titir buk?" (apa gara gara mencari titir buk?) tanya Listi tiba tiba yang membuat ibunya shock dan mendekat ke Listi 
"Tau darimana kamu soal itu?" tanya ibunya serius

"Toiman bilang ke aku waktu masak kemarin soal titir buk, tapi dia gak ngomong kalo mau cari asal suara itu, dia hanya bilang enak kalo cari ikan malam hari setelah hujan deras" jawab Listi yakin

"Sek sek..ayo duduk sini... 
Seberapa tau kamu soal titir..." tanya Ibu Listi kemudian duduk disebelah Listi duduk

Listi pun menceritakan dari awal hingga akhir tanpa ada satupun yang ia tutupi.

Ekspresi ibunya juga berubah menjadi khawatir, dan sedikit ketakutan setiap kali kata Titir terucap. 
Malam pun kembali datang, menawarkan ribuan keheningan, kali ini tidak ada hujan, yang ada hanya cahaya dari tiap tiap rumah dan beberapa obor yang dibawa warga yang sedang mencari Toiman.

"Yowes aku berangkat dulu ya" ucap ayah Listi kemudian membawa sarung yang di kalungkan 
Dan menyalakan obornya

"Mau nyari dimana mas?" tanya Ibu listi

"Katanya pak RT mau di sebar nanti di sekitar desa sini..dan 4 pintu masuk menuju desa ini...yowes yo aku berangkat" ucapnya kemudian pergi menuju rombongan yang menunggu di halaman rumah Listi

Listi pun melihat - 
Jam 10 ocheng bakal lanjutin yaaa..stay tune wkwkwk 
Ayahnya yang sedang pergi bersama warga yang lainnya

"Wes gek ditutup pintune, kamu tidur o dikamar" ucap ibu listi yang kemudian menyeduh tehnya

"Iya buk"

Listi pun menutup pintu dan jendela, kemudian ia bergegas menuju kamarnya. Sekali lagi ia menutup selambunya dan mulai 
Merebahkan badannya di kasurnya. Akan tetapi kali ini ia tidak bisa tidur, lebih tepatnya tidak mau untuk tertidur, mengingat kejadian dalam mimpinya.

Listi takut jika mimpi itu berlanjut dan akan berdampak buruk baginya atau yang lainnya.

Suara jangkrik saling bersautan, 
Sesekali terdengar suara batuk ibunya.

Hingga sesuatu suara membuat Listi menjadi fokus akan hal itu.

"Bu nee...buneee" sapa ayah Listi dari luar yang kemudian terdengar suara membuka pintu

"Ada apa mas?" tanya ibu Listi kebingungan

"Nandi Listi buk?"

"Tidur, " sambil 
Menunjuk ke arah dimana Listi tidur

"Yawes baturi Listi buk, Desa kita dalam keadaan genting, Toiman hilang, ini kami cari tadi gak ketemu...takutnya terbawa Titir buk" terang Ayah Listi

"Terus gimana mas?"

"Ya ini akan terus melakukan pencarian sampai pagi bu, dibantu 
Sama warga dari desa sebelah juga"

"Yasudah pintu aku tutup lagi ya mas? Aku tak nemani Listi"

"Iyo bu ne, aku gak pulang malam ini...bantuin warga, yasudah aku pamit dulu ya"

Kemudian pintu pun ditutup, lampu dari petromax pun di kecilkan hingga redup kemudian ibu Listi 
Menyusul dimana Listi sudah tertidur pulas.

"Nduk, ibu tidur sini ya"

Listi tak kedengaran karena memang sudah tertidur pulas , sedangkan ibunya tidur disamping Listi dan memeluknya malam itu.

Malam masih bergerak, belum menunjukan pagi ataupun ada suara ayam berkokok... 
Dan entah kenapa Listi pun terbangun, ia melihat ibunya yang tertidur pulas disampingnya. Sambil memeluk Listi dari arah kiri.

Listi pun melihat wajah ibunya sejenak, kemudian ia bermaksud beralih posisi membelakangi ibunya.

"Ibuk?!" batin Listi, kali ini jantungnya berdegup 
Kencang, keringatnya keluar dan dia mencoba untuk tidak gemetar. Ketika ia beralih posisi membelakangi ibunya, Listi melihat Ibunya tertidur di kananya tetapi posisi membelakangi Listi.

"Terus siapa yang...." pikiran Listi berkecamuk

Dia tidak tau siapa ibunya yang asli 
Apakah yang membelakangi, atau yang sedang memeluknya.

Ia perlahan menggerakkan tangannya mencoba membangunkan sosok yang membelakanginya. Listi meraih bahunya dan menggerakkannya pelan pelan.

Hingga ia sadar bahwa ketika dirumah, Ibunya selalu memakai daster bunga bunga - 
Seperti yang sedang ia lihat sekarang, bukannya memakai kebaya berwarna hijau seperti sosok yang masih memeluknya.

"Berarti i...i..ini...si..si..sii..siapa" batin Listi ketakutan

Tiba tiba tangan yang memeluknya itu bergerak. Terkena cahaya lampu petromax yang samar samar, 
Kuku tangan itu berubah menjadi hitam legam dengan pucuk"nya tajam.

"Hi..hi...hi..hi..." suara itu terdengar dari telinga kiri listi.

Listi terbelalak, tak berani menoleh ke sumber suara

Srrrrrrttttt

Sesuatu sepertinya sedang menjalar ke area kepala Listi....

Itu RAMBUT 
Rambut hitam yang semakin memanjang bergerak menuju area kepala Listi.

Listi hanya diam tak bergerak, pelukan sosok itu semakin kuat seakan tak mau melepaskan Listi. Listi pun sudah tak kuat dan melepaskan semua Teriakan yang ia tahan dari tadi.

"KYAAAAAAAA...!!!!!!!" 
Tetapi suara teriakannya tak terdengar oleh ibunya, ibunya masih tertidur lelap.

Listi pun bergerak berusaha melepaskan pelukan sosok itu, tapi Usahanya sia sia...hingga tiba tiba

PATS!!!!!!

Listi serasa tertarik ke belakang, kamar dan Ibunya serta cahaya petromax semakin 
Jauh , ia seperti terseret ke ruang hampa, hanya ada hitam dan hitam...

Ia tak bisa melihat apapun, bahkan tangan atau tubuhnya sendiri pun tak terlihat.

...............................

Dari jauh terdengar suara suara gamelan saling bersahutan, sesekali berubah seperti suara 
Anak anak yang terjun ke sungai lengkap dengan tawa mereka, berubah lagi menjadi suara tangisan wanita yang nyaring kemudian suara wanita tertawa dan teriak...begitu ramai sekali dan berubah ubah...

Suara suara itu semakin dekat dan seperti berputar di pikiran Listi 
Listi tak mampu menemukan cahaya. Ia ketakutan, badannya gemetar. Ia menangis sejadi jadinya, ia berjalan seperti tak menemui ujung, ia berlari pun hasilnya sama.

Hingga ia melihat dari jauh ada satu sorotan cahaya kuning menerangi seseorang wanita sedang bersimpuh 
Lengkap dengan baju kebaya hijau dan sewek bunga bunga, serta selendang yang ia sampirkan di pundaknya.

Listi memberanikan diri untuk mendekatinya. Anehnya wajahnya tak terlalu terlihat, terkena siluet dari sesuatu yanv bahkan listi tidak tahu itu apa.

"Dia berkidung" batinnya 
Wanita itu berkidung yang liriknya pun tidak jelas dan asing bagi Listi, listi mulai curiga dan takut dengan sosok itu.

Listi menjauh dari sosok itu dan kemudian

BRUUUGGG....

listi menabrak sesuatu dibelakangnya, sontak listi menoleh

"AREP NANDI KOWE CAH AYU!!!" (MAU KEMANA 
KAMU ANAK CANTIK!!) teriak wanita yang tadi duduk bersimpuh di bawah sorotan cahaya.

Listi pun segera menjauh dan melihat, kali ini listi tahu , sosok itu melayang dengan kakinya yang meneteskan cairan merah gelap kental.

Badannya yang menjadi basah kuyup, mukanya 
Setengah lebih mirip iblis daripada manusia, dengan hidung yang seperti kelelawar dan taring nya yang panjanf kurang lebih 20m, mata kananya menyala merah bulat. Tangan kanannya bersimbah darah.

"Apa maumu?!" tanya listi memberanikan diri

Tapi sosok itu tak menjawab, ia hanya 
Mendekat perlahan ke Listi. Kali ini wajahnya begitu jahat, hingga tercipta senyuman menyeringai...dan anehnta muncul suara gending yang amat cepat dan bersahut sahutan serta teriakan teriakan yang Listi tak tau asalnya darimana.

Listi mengambil langlah mundur ia berlari menjauh 
Dari sosok itu, sosok itu masih bergerak mengejar listi yang berlari sekencang mungin tanpa tau arah dan tujuan.

"LISTI!!!! KESINI!!!!!" suara teriakan itu tak asing bagi Listi

Listi pun menoleh ke arah suara itu

"Toiman!!!"

"Reneo cepetan!!!(kesini buruan!!!) 
Segera Listi berlari menuju Toiman, kemudian, Toiman pun membawa Listi seperti ke antara pohon beringin yang besar, yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Mereka berdua terus berlari, Toiman pun masih menggenggam erat tangan Listi yang saat itu berada dibelakangnya.

Kurang 
Lebih 5 menit berlari, Toiman pun tiba tiba berhenti di tepi sungai, dengan aliran yang cukup tenang dan jernih.

Listi mulai sadar bahwa mereka sudah berada di sumber air salah satu jalan masuk ke desanya.

"TOIMAN !!!!" ucap Listi yang seketika membuat toiman melepas 
Genggamannya , ia menoleh ke arah Listi tanpa mengatakan sepatah kata apapun.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Listi yang tiba tiba keluar air matanya

"....."

"HEH TOIMAN!!!" ucap listi dengan nada agak meninggi

Sekali lagi toiman hanya terdiam saja hanya memandang Listi 
Kemudian Toiman pergi ke Sumber air, mengambil air itu dengan kedua tangannya.

Kemudian ia mencipratkannya ke muka Listi.

Listi pun kaget, rasanya seperti terkena cahaya petir..hingga semuanya gelap

Terdengar suara seperti memanggi manggil namanya. Listi pun membuka matanya 
Perlahan. Dan betapa terkejutnya ia sudah berada di ruang tamu dengan tangan dan kaki yang dipegangi oleh warga sekitar.

Ia melihat ibunya yang menangis sambil meneriakan namanya kemudian langsung memeluk Listi erat, ayahnya juga melakukan hal yang sama.

Listi masih bingung 
Dengan apa yang terjadi, listi pun segera di bawa ke kamarnya dan diberi minum kemudian salah satu warga sedang mengoleskan sesuatu di telapak kaki Listi.

Listi masih kebingungan dan tidak tau apa yang sedang terjadi.

"Ada apa buk?" tanya nya polos

Ibunya hanya bisa menangis 
"Gini nduk, tadi kamu kerasukan sesuatu" ucap ayah Listi singkat

"Tapi sudah lah sekarang kamu tidak apa apa, bapak dan ibuk bersyukur sekali" imbuhnya

Listi masih seperti orang bingung, dengan tatapan kosongnya...singkat cerita malam itu warga pun di bagi 2 , setengah menetap 
Dirumah Listi dan sekitar, dan sisanya mencari keberadaan Toiman yang sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya.

Pagi pun datang, beberapa warga yang ada di rumah Listi dari semalam kembali ke rumah mereka masing masing. Listi masih seperti orang linglung dan sekarang 
Masih berada di dalam kamar. Sedangkan ayah dan ibunya berada di depan kamarnya dengan selambu yang dibiarkan terbuka.

"Gimana pak?" tanya Ayah Listi ke seseorang yang berada di rumahnya

"Jarene tadi masih belum ketemu mas, ini keluarga masih mencari...takutnya kalau hanyut" 
Jawab orang itu

"Yasudah saya permisi dulu..mari" imbuhnya

"Iya ,terimakasih pak", kata ayah Listi

"Gimana mas? Ketemu?" tanya Ibu Listi
"Masih nihil Bu Ne...." jawab Ayah Listi

"Opo jangan jangan...."

"Hus...."

"Tapi mas...kalo mau ga percaya tapi tanda tandanya sudah 
Jelas!" kata Ibu Listi

"......" Ayah listi pun terdiam, seakan memikirkan semua rentetan yang terjadi...termasuk apa yang menimpa anaknya itu.

"Apapun yang terjadi aku gamau Listi nasibnya koyo Joko!" kata Ibu Listi terbata bata sambil menahan air matanya

"Sopo to bune seng 
Mau hal itu terulang lagi?!!!" ayah Listi pun berdiri dsn berpindah di kursi panjang di ruang tamunya.

Tiba tiba Listi pun beranjak dari tempat tidurnya dan menyela pembicaraan ayah Ibunya

"Buk, pak, titir....." ucapnya yang membuat orang tuanya kaget dan kemudian menarik 
Listi dan di dudukan di kursi ruang tamu .

"Seberapa tau kamu soal Titir?!", tanya ayahnya kaget

Sekali lagi Listi menceritakan semua kejadian dari awal hingga akhir dimana ia bertemu dengan Toiman.

Ayah dan Ibunya kaget dan tak menduga akan hal seperti itu. 
"Harus diakhiri...ini kalau diteruskan bisa bisa berbahaya" ucap ayah Listi yang kemudian berdiri dari duduknya.

"Arep nandi mas?" (mau kemana mas)
Tanya ibu Listi kaget

"Aku mau ke pak Rt, memberikan informasi ini, dan akan segera dilakukan pencarian saja" 
Kemudian Ayah Listi pun bergegas pergi ke rumah pak Rt meninggalkan Istri dan anaknya di rumah.

"Buk, tolong katakan soal sergi ne mas buk!" pinta Listi tiba tiba

Ibunya terhenyak, kemudian ibunya bercerita

"Namanya Joko, dia kakakmu.........." ibunya menceritakan mendiang 
Joko dan bagaimana ia bisa meninggal dan semuanya yang ibu dan ayahnya ketahui.

"Ya...semua berawal dari Ti..."
Cerita ibu listi terpotong tatkala mendengar suara ramai ramai orang di depan rumah mereka

"Ada apa pak buk???" tanya ibu Listi kaget

"Anak e pak Samsuri..Ranti.. 
Ilang dari semalam" jawab salah satu warga

Listi yang mendengar hal itu pun langsung menyusul ibunya dan melihat warga desa sedang panik, ada yang sedang berlalu lalang ...

"Pie mas???" tanya Ibu Listi

"Ranti ilang bu ne, dari semalam, katanya mau ke kamar mandi, terus 
Gak kembali sampai sekarang" jawab ayah Listi

"Aku tadi sudah bertemu pak Rt, beliau menyuruh salah satu Warga sedang memanggil orang pintar buat ngebantu menemukan 2 anak itu bu ne" imbuhnya 
Singkat cerita hari itu sangat ramai sekali karena dua anak hilang dalam waktu dekat dan semua itu terjadi diluar nalar manusia pada umumnya.

Listi saat itu hanya bisa menunggu kabar dari warga sekitar yang mencari dua temannya itu.

Petang pun mulai menghampiri, warga pun- 
Berkumpul di halaman rumah Listi karena tempatnya paling luas, obor obor sudah mulai dinyalakan. Pak RT pun memberikan instruksi pencarian terhadap warga sekitar.

Setelah itu warga pun menyebar dan mencari sambil membunyikan kentongan yang berasal dari bambu.

"Bagaimana pak?" 
Tanya Ayah Listi

"Waduh dek, ini yang disuruh belum datang datang juga ...bagaimana ini" jawab pak RT gusar

"Mungkin sedang dalam perjalanan pak" ucap Ayah Listi menenangkan Rt

Seseorang warga pun tengah berlari menuju ke pak Rt dengan wajah panik 
"Lek karman pak...lek karman!!!"

"Onok opo??...wes teko?!" tanya Rt itu

"Lek karman kecelakaan..."

Semua orang yang ada disitu kaget bukan kepalang. Pak Rt hanya bisa terdiam seakan tidak percaya...

"Kok bisa?!"tanya ayah Listi memastikan

"Tadi ada warga dari desa sebelah 
Kesini dan mengatakan, sekarang lek karman di bawa ke klinik di perbatasan, sepeda jet cooled pak Rt rusak parah dibagian depan katanya tadi" jawab warga tersebut

"Wes beberapa orang langsung menuju ke klinik nyusul karman..omongono keluargane, sisane tetep di rencana utama" 
Kata Pak Rt mencoba tegar

Listi yang tadi melihat dan mendengar kekacauan ini merasa iba, ingin sekali ia membantu, apalagi ini menyangkut dua temannya, akan tetapi ia bingung harus bagaimana dan terlebih ia takut bertemu makhluk makhluk itu lagi. 
Listi pun mencoba untuk ikut membantu, ia berjalan mendekati ayahnya hingga ia tak tersadar bahwa telapak kakinya menginjak genangan air.

Dan secara tiba tiba di penglihatan Listi, tempat itu berubah menjadi tempat dimana Listi terakhir kali bertemu dengan Toiman.

Listi bingung 
Ia melihat ke sekeliling dan benar saja ia kembali ke tempat dimana ia bertemu dengan toiman terakhir kali.

"Napo balik mrene maneh?!" (kenapa kembali kesini lagi?") tanya Toiman yang duduk di atas batu dekat pohon beringin di sumber air itu

"Ranti hilang!" kata Listi 
"Dan sebenarnya kamu pergi dimana? Kamu sembunyi dimana?" tanya Listi

Toiman tak menjawab , ia hanya kaget dengan apa yang Listi bilang

"Ranti? ...demit sialan! Jancok!" umpatnya sambil mengepalkan tangannya

"Ayo goleki ranti sakdurunge terlambat" imbuhnya 
Listi pun mengiyakan ajakan Toiman dan mengesampingkan pertanyaannya tentang Toiman bersembunyi dimana...

Mereka berdua menyusuri jalan setapak yang penuh genangan air bercampur tanah, melewati beberapa pohon besar besar yang listi sendiri tidak pernah melihatnya di desanya. 
Tiba tiba Toiman berhenti di depan bendungan kecil.

"Koyoe di delikno nd sekitar kedung iki" (sepertinya di sembunyikan di sekitar kedung ini) ucap toiman

"Loh ini kan" kata Listi terhenti melihat tempat yang biasa mereka bertiga buat main sekaligus dibuat untuk mencuci ternak 
"Aku..biasanya kesini sama ibuk kalau nyuci sapi" imbuh Listi

"Iya tapi ini tempat berbeda listi" kata Toiman

"Yowes kita berpencar ae goleki, wani kan? Anggep ae kalo ada apa gitu itu monyet, dan jangan pernah mencoba berkomunikasi dengan mereka yang mencoba memanggilmu.. 
Termasuk suaraku atau suara keluargamu atau siapapun" ucap Toiman dan langsung pergi berlawanan arah dengan Listi

Listi hanya bisa menuruti apa kata Toiman dan mulai mencari Ranti.

"Dek...listi....dek...listiiii" suara nyaring terdengar di setiap perjalanan Listi

Listi masih 
Ingat betul apa yang dikatakan oleh toiman, hingga listi pun tak menggubris sama sekali panggilan panggilan dengan nada yang berubah ubah itu....

Sesekali terdengar suara gamelan, sesekali muncul suara gong ,disertai suara suara yang memanggil manggil namanya..ada juga yang 
Mengumpat kepada Lasti, tapi lasti tetap teguh pada ap yang sudah dikatakan Toiman.

Hingga ia menemukan Ranti sedang duduk dalam keadaan mata tertutup., sontak Listi berlari menghampiri Ranti dan membangunkannya.

"RANTI...!!! TANGIIIOO!!! HEH!" (ranti!!! Bangun, heh!!) 
Ucap Listi sambil menggoyangkan pundak dan sesekali menepuk pipi Ranti.

Mata ranti pun terbuka. Dan kaget melihat Listi berada didepannya

"Listi?? Bukannya aku ...kok sekarang ada disini..." ucapnya bingung melihat kondisi disekelilingnya

"Wes saiki melu aku...bahaya di sini" 
Ranti mengangguk dan kemudian mengikuti Listi dari belakang.

"Apapun yang terjadi, jangan menjawab panggilan dari siapapun yo ran!"

"Kenapa memang?"

"Turutono aku kalo pengen selamet nyowomu!" ucap Listi kesal kemudian Ranti menggenggam tangan listi erat erat.

Air di kedung 
Yang tadinya tenang kemudian bergerak tak beraturan seolah sedang di gerakan oleh sesuatu, berbarengan dengan suara gending yang sangat cepat dan keras.

"Suara apa itu Listi...aku takut" ucapnya Ranti yang mendengar suara suara teriakan ,tertawa dan anak anak yang 
Seperti menceburkan diri kedalam kedung. Suara itu semakin riuh ditambah suara gemuruh yang tak tau darimana berasal.

Siiiinnngggg~

Tiba tiba suara suara itu menghilang, tak terdengar apapun, hening, bahkan suara jangkrik tak ada.

Lasti pun berhenti, dan melihat sekeliling 
"Kamu dengar?" tanya Ranti

"Iya...Gending...kan?", jawab Listi yang mendengar suara alat musik jawa sedang dimainkan pelan dan lirih

Akan tetapi lama lama suaranya semakin cepat dan keras, membuat mereka berdua ketakutan. Hingga suara yang memekakan telinga mereka muncul dan 
Membuat mereka berdua menutup telinga.

"AREP MOK GOWO NANDI WEKKU IKU!!!!!" (mau kamu bawa kemana punyaku itu) teriak wanita yang pernah ditemui listi itu sambil melayang layang di depannya.

"BOCAH KUI TEK ANKU! RAUSAH MELU MELU, AWAKMU TAK CULNO TAMBAH NGELAMAK!" 
(Anak itu punyakku! Gausah ikut campur, kamu sudah ku lepaskan tambah gak sopan!) teriaknya

Listi hanya menatapnya sambil melihat kearah wanita itu. Sedangkan ranti berlindung di belakang tubuh Listi. 
Disambung besok ya, ocheng sudah tida quuuaadddh 
"Listi....itu siapa?" tanya ranti ketakutan

"Itu yang biasa orang orang menyebut titir, sumber dari segala bencana...iblis!" ucapnya tegas

"Ada kuasa apa kamu ke Ranti?! Aku bakal bawa dia pulang!" teriak Listi tegas

Wanita itu pun turun dan menapakan kakinya di antara tanah. 
Matanya memerah dan mulutnya terbuka lebar, sangat lebar...bahkan di pipinya seperti robekan karena mulutnya yang dibuka...dari dalam mulutnya keluar bermacam macam serangga berwarna hitam pekat dan bergerak menuju Listi dan Ranti.

Sekejap Listi menarik tangan Ranti dan mengajak 
Nya pergi dari kejaran serangga hitam itu yang jumlahnya sangat banyak.

Mereka berlari memutar tanpa tujuan jelas ,listi pun mulai kelelahan ditambah Dia harus menarik Ranti yang larinya sangat lambat daripadanya...hingga serangga serangga itu dapat mengejar mereka... 
Anehnya serangga itu membentuk gumpalan dan semakin lama semakin solid dan menjadi Wanita itu tadi.

"Kudu tak resik i dino iki!!" ucapnya kemudian hendak menyerang Ranti dan Listi yang kelelahan.

Listi pun terkejut tatkala Wanita itu tak mampu menyerang mereka karena dilempari 
Oleh sesuatu ikatan yang listi sendiri tak tahu itu apa.

"Woe! Mlayuo....rene!!!" (woe larilah kesinii..!!") teriak Toiman yang tiba tiba ada di belakang mereka kurang lebih 50m

Listi dan Ranti dengan sekuat tenaga berlari menuju Toiman.

"Wes...iblis iki tak urusane...kalian 
Duluan saja..ikuti jalur setapak ini sampek kalian menemukan sumber air, menengo nd kono" ucap Toiman

"Ojo man, ayo pulang bareng"

Toiman tersenyum tipis...
"Aku sudah pulang, nanti bilangno warga aku ada diantara batu besar di sungai dekat perbatasan desa"

Listi pun terdiam 
Kemudian tanpa pikir panjang Listi dan juga Ranti mengiyakan apa yang Toiman maksud.

Mereka berjalan menyusuri jalan setapak itu. Dan mereka tak melihat ke belakang ,sehingga tak tahu apa yanv sedang terjadi antara Toiman dan iblis itu...

Yang pasti suara suara gemuruh, dan 
Teriakan saling bercampur menemani malam yang mengerikan itu.

Listi dan Ranti sudah di penghujung lelahnya, mereka berdua berjalan perlahan ke tempat dimana toiman bilang.

"Wes teko...."(sudah sampai) ucap Listi kemudian mereka duduk tepat dibawah batu Besar.

"Toiman gimana?" 
Tanya Ranti khawatir

"Dia sudah bilang kalau sudah selamat duluan kan?...dia pasti baik baik saja...sekarang gimana cara kita kembali ke alam kita" ucap Listi

Ranti pun kebingungan dan tak mengetahui caranya.

"Templekno getihmu nang wat gede iki" suara yang entah darimana 
Datangnya, Ranti kemudian mendekat i Listi dan memegang bajunya erat erat

"Suoro opo iku" tanya Ranti takut

Suara itu berulang ulang dan semakin cepat dan keras. Beberapa saat kemudian dari jauh listi dan ranti melihat cahaya bola api yang memiliki ekor menuju ke langit dan ber 
Putar putar seperti sedang mencari sesuatu.

"LAKUKAN! BIAR SELAMAT!" ucap suara misterius itu

Sontak tanpa pikir panjang Listi mengambil batu yang tajam seperti sudah diasah di sebelahnya dan ia menusukan dan digoreskan hingga daging telapak tangannya sobek mengeluarkan darah 
Segar.

Ranti pun juga melakukan hal yang sama dan menahan sakitnya itu, kemudian mereka berdua memegang batu besar itu menggunakan tangannya yang sobek itu.

Kemudian Listi sadar, Ranti yang ada disebelahnya tiba tiba musnah tidak ada, meninggalkan jejak tangan darah di batu itu 
Terdengar suara gamelan yang saling bersahut sahutan, disusul suara teriakan wanita yang tidak asing semakin mendekat, sedangkan Kesadaran Listi semakin menipis...dan segala sesuatu mulai gelap.

Dalam setengah ketidaksadarannya, Listi melihat Pria yang pernah ia temui tempo hari 
Menggunakan blangkon dengan pakaian jawa lengkap, tetapi basah kuyup. Dia menoleh ke arah Listi

"Salam kagem bapak, ibuk yo dek..." ucapnya pelan kemudian listi pun pingsan dan disekitarnya menjadi gelap gulita. 
Dalam gelap itu listi mendengar suara yang meneriakkan namanya, suaranya tidak asing...

"Bapak...Ibuk?!!!!" teriaknya dan matanya terbuka , listi melihat orang orang sedang melihat Listi.

Listi melihat ke orangtuanya yang menangis memeluknya, dan beberapa orang yang memegang 
Tangannya mulai melepaskan tangannya.

"Ini dimana pak?" tanya Listi heran karena perasaan tadi ia berada di rumah saat berpindah alam.

Ayah ibunya tidak menjawab pertanyaan Listi, mereka hanya memeluk dan menangisi Listi.

Listi pun melihat banyak obor yang dipegang warga saat 
Itu , dan baru menyadari bahwa ia berada di sumber air. Dimana ia terakhir bertemu dengan Ranti. 
Singkat cerita, mereka kemudian membawa Lasti kembali ke rumah, Lasti saat itu di gendong belakang oleh ayahnya. Wajah Lasti masih seperti orang kebingungan dan beberapa kali memanggil manggil nama Ranti.

Di perjalanan beberapa orang menggendong satu anak perempuan, ya itu Ranti 
"Astaga...ketemu dimana pak?! Tanya salah seorang warga

"Kono nd kedung, turu nd isor wit asem!" (disana di kedung, tidur di bawah pohon asem)

Mereka pun semakin ramai berbicara satu dengan yang lain tentang kejadian malam itu, kemudian mereka membawa dua anak itu ke rumah 
Listi.

Listi dan Ranti pun belum bisa cerita, terlebih trauma dengan kejadian yang dialami, sedangkan warga masih penasaran dengan apa yang terjadi, sehingga disana ramai sekali warga desa tersebut.

Keesokan harinya, pagi pagi sekali, ranti masih tertidur ditemani keluarganya 
Dirumah Listi, sedangkan Listi bangun dan memberi tahu ayahnya soal keberadaan Toiman.

"Toiman masih hidup...dia berada di bebatuan sungai dekat perbatasan pak..." ucapnya tiba tiba yang membuat ayahnya dan warga sekitar yang berjaga dari malam hingga pagi itu berdiri dan - 
Langsung melihat ke arah Listi

"Ngerti teko endi sampeyan nduk?" (tau darimana kamu nduk?) tanya seorang warga

Listi menceritakan secara singkat tentang apa yang diucapkan toiman ke Listi malam itu. Sekejap warga pun kesana dan memastikan kebenarannya.

Beberapa jam berselang, 
Ayah Listi kembali ke rumah bersama pak Rt dan beberapa warga

"Toiman sudah ketemu buk" ucap pak Rt ke ibu toiman

"Terus nandi bocah e saiki pak?" (terus kemana anaknya sekarang pak?)

Pak Rt pun diam...warga yang lain termasuk Ayahku juga terdiam..beberapa detik kemudian 
Ibu toiman menangis sejadi jadinya.

Ya, Toiman ditemukan sudah tidak bernyawa diantara bebatuan sungai dekat perbatasan...persis dengan apa yang Listi ucapkan.

Fyi : narasumber sebenarnya memberi tahu gambaran mengenai Toiman diketemukan, tapi saya tidak akan menjabarkannya 
Dikarenakan menghormati alm. Dan juga untuk kenyamanan pembaca.

Epilog :

Beberapa minggu setelah kejadian dan semua kembali normal. Listi tiba tiba berkata ke Ibunya mengenai alm kakaknya

"Buk...aku ketemu mas Joko..." ucapnya Lirih

Ibunya kaget dan langsung menghampiri 
Listi

"Gek ngomong apa kamu?" tanya ibunya

"Iya buk, saya bertemu dengannya...dia memiliki tahi lalat di bawah bibirnya to?"

Ibunya terdiam dan mengangguk

"Sebelum aku pingsan, mas joko bilang...salam kagem bapak, ibuk yo dek" ucapnya menirukan ucapan Joko

Ibunya pun 
Menangis dan langsung memeluk Listi erat , suara tangisannya membuat Listi meneteskan air matanya. Listi seperti merasakan rasa sakit yang selama ini ibunya pendam. 
Selesai...

~( ^_^)~
Yah, saya yakin dari semua pembaca bakal mengira ini fiksi atau apa, tapi itu semua hak pembaca sekalian, jika tanya ke saya, apakah ini asli atau rekayasa? Maka saya akan menjawab, semua tergangung pada presepsi pembaca bagaimana...

Sampai kejadian itu 
Orang orang di desa saya dulu ketika ada bunyi titir ketika hujan deras, makan tidak ada satupun yang berani untuk mencari sumber suara tersebut... Dan biasanya langsung menutup pintu dan berada didalam rumah...tapi di masa sekarang..sudah tidak ada kejadian seperti itu lagi(^_^) 
Ketika kalian selesai membaca ini, saya juga berterimakasih kepada pembaca, kepada narasumber, dan meminta doa untuk alm.Toiman (nama samaran) agar mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya.... Amin
Source: @imsune0

Untuk baca Thread Lainnya di Versi Mobile klik Versi Desktop dulu dibagian paling bawah,lalu pilih Label maupun Penulis,dan pilih judul yg mau di baca..
Enjoy!!!!

Keluarga Hantu di Ruko Batam

  Keluarga Hantu di Ruko Batam A Thread #memetwit   @InfoMemeTwit Oleh: Ghost Writer (Cerita nyata - cerita mistis) Sembilan belas tahun yan...

Pengikut

Pembaca Cerita Horror

Arsip Blog

Cari Blog Ini